PuisiSeni & Buku

Wajah Bunga-Bunga, Cisarua, Tang Batang dll

Puisi: Matroni Musèrang*

Wajah Bunga-Bunga

 

aku melihat wajah bunga-bunga

mengambang di bulu mata.

 

aku meniti jembatan senyum bibir

sambil melihat barisan gigi.

 

aku berjalan diatas keringat

memaknai basah yang melukai tubuh.

 

aku membaca buku-buku luka

mencari diksi bunga.

 

aku menulis puisi halaman demi halaman

mewakili para pencangkul di sawah

mewakili suara ibu-ibu yang terisak-isak.

 

Purwokerto, 2017

 

 

Ketika Bayang-Bayang Matahari

Di Wajah Gelombang

 

pulau ini dikenal pulau oksigen

pulau yang berjipun goa air, goa mahakarya

pantai yang hijau dan tocangga yang gagah.

 

ditepian pagi jalan jualan jajan

berkerumun orang-orang sebelum majang.

 

perahu membawaku dari gili iyang

menuju pelabuhan dungkek

menyisakan iba di masa datang.

 

ketika bayang-bayang matahari

di wajah gelombang.

 

Mei, 2017  

 

 

Cisarua

 

aku bertemu kawan-kawan negara

dari Singapura, Malaysia, Brunai dan Indonesia.

 

kami tinggal di bawah langit Bogor dan hotel adhyaksa

bercerita tentang sungai

tentang pohon nangka

tentang rumput-rumput yang hijau

tentang kericil putih di pot meja

tentang tamu yang ramah

tentang pelayanan yang indah

tentang kolam kata-kata.

 

Jokpin masuk ke tubuh puisi

mengolah dari merah ke putih.

 

Acep Zam Zam Noor meracik diksi

hingga bersih.

 

Agus R Sarjono menuai lihai belaian arti

menelusup di relung hati.

 

puisi yang terurai rapi di relung sepi

tak basi di kertas hari.

 

Bogor, 13 Agustus 2017

 

 

Tang Batang

:Farihan Fahran

 

tang batang, tang batang

dengar mamaca berdenting

berceracau, berdesing

bersorak-sorai nyaring

macam tanah di kapling

 

tang batang, tang batang

disuruh tanam, kau nentang

dikerah bajak, kau silang

dipandu jari jalan beriring

jari-jari tangan memancing

macam di tanah tempat tebing

 

tang batang, tang batang

ikut retak musim garing

tak pusing tuju keliling

sambut buah jangan tuding

macam ayam makan cacing

 

tang batang, tang batang

kita ubah tanah warga

sekali-saja

jadilah

domba

 

Madura, 19 Agustus 2017

 

 

Batang Batang II

 

batang-batang pohon di tebang

tumbuhlah gedung menjulang.

 

panas menyakitkan perut kembung

pikiran melambung

hati linglung.

 

perut batang-batang di keruk

menanam padi tak tumbuh jeruk

sebab batang selalu datang

membawa kabar petang.

 

bila batang mulai henkang

dan tanah tak lagi sayang

suburmu menghilang

terbawa arus tebang.

 

batang cemara udang di Lombang

pun mulai menipis karena uang.

 

Agustus 2017

 

*Penyair, kini tinggal di Madura, di samping Ngajar di MA Nasy’atul Muta’allimin Gapura Timur dan Dosen di STKIP PGRI Sumenep, mengelolah komunitas sastra, aktif menulis di media, di samping juga pernah belajar di MASTERA 2017.

Tags

Redaksi Jaazaidun.com

Tim Redaksi jaazaidun.com

Related Articles

Close