PuisiSeni & Buku

PUISI-PUISI DAVIATUL UMAM

Puisi-puisi Daviatul Umam

 

Taman Adipura

di taman adipura di bangku utara
kita menghunus sepasang pandang yang sama-sama dihuni bunga-bunga
beterbangan sekelompok kupu-kupu biru dari matamu ke mataku
kawanan burung dara di belakang kita menggigil lalu beku

di taman adipura di tepi keramaian
cerita kita meringankan beban yang menunggangi punggung jalanan
kendaraan yang lalu-lalang kukutuk sebagai makhluk pengusik kesetiaanmu
sekali-kali jangan hirau seperti kau abai pada kebisingan itu

Sumenep 2018

Pantai Ponjhuk

laut tidak pernah klise
untuk kugaungkan dalam larik-larik puisi
apalagi ombaknya melagukan nada-nada riang kebersamaan kita

kapal bergulat melawan sakal
sampan-sampan berjuang membela kemiskinan
sedangkan kita antusias menimbun rindu di rimbun batu
seolah tak mau tahu
betapa bengis jalan pencaharian mereka itu

tiada satu pun ikan yang bisa kita lihat
hanya kepingan gejolak air berampas-ampas
kemudian kembali pada semula
kebiruan mata pantai yang wibawa

angin cemburu akan sejuk senyumanmu
pohon-pohon siwalan menahan malu pada keteduhan nuranimu
dan matahari yang sangat sengit
perlahan menarik cakarnya
tak berani melukai cintaku
yang lebih berbahaya

Sumenep 2018

Sajak Kemelaratan

kemelaratan selalu memaksaku
melepaskan diri dari dekapmu yang amat erat
aku berontak
kau menahan kuat

kota yang kata mereka menyajikan segala
melambai-lambai dan berteriak:
“majulah kau biar kulantak!”

banyak hal yang tak pernah selesai kuabadikan bersamamu
seumpama rumput-rumputmu yang terus tumbuh
sesudah berulang kali disedekahkan kepada kambing dan lembu
keinginan-keinginan bermain
bermanja
bertafakur
terus mendentum
memantul-mantul
tiada ujung

sayang sekali
kemelaratan selalu menetaskan api
api yang mengalir ke tubuhku
tidak padamu
justru kau santai-santai saja mendapatiku melepuh begini
dan aku tidak peduli akan tawaran janjimu yang kian basi

Sumenep 2018

 

Talango

masjid-masjid dibangun

kubah megah mahkota kebesaran agama

tetapi ruang dada berserak limbah

semakin berat berangkatkan nurani

mencapai pendar di dalamnya

 

rumah-rumah lompat ke tepi jalan raya

tampak tambah gagah

lebih baik menonton pacuan kendaraan

daripada diusili ayam tetangga

teriak mesin dan klakson lebih merdu

ketimbang pertengkaran kucing sebelah

 

tumbuh toko-toko berkembang pesat

sumber lancar arus lebih gencar

tenaga terkuras

untuk sesuatu yang lekas tandas

 

berdiri kini kedai-kedai beraneka sajian

menanti keroncong perut para pejalan

agar tak melulu lauk ikan tulang bercabang

 

mobil-mobil mewah merayapi kampung

mencipta pengap panjang memagari pasar

dalam antri masuk ke mulut tongkang

jalanan tak selapang kekuasaan

waktu tergerus sebagaimana kerendahhatian

 

cuci pakaian cuci kendaraan

tanpa menyakiti sendi sendiri

biarkan uang berselancar

kuasa atas semua yang menghamba

 

aliran listrik meringankan beban hidup

tak perlu kompor apalagi anglo buat menanak

tinggal jalankan aksi kabel saat lapar mendesak

tak perlu ke beranda mencari angin

saat jerat surya melanda

dalam kamar mengaum beliung kecil

kapan pun dan sampai kapan pun maunya

 

deras air mengucur dari keran

untuk apa beramai-ramai di pinggir sumur

kalau sudah enteng mandi dan minum

biarlah sumur-sumur berjamur dan menua

karam ditelan neraka dunia

 

Sumenep 2018

 

Daviatul Umam, lahir di Sumenep, 18 September 1996. Alumni Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa ini pernah menjabat sebagai ketua umum Sanggar Andalas. Puisi-puisinya dimuat di sejumlah antologi bersama serta media cetak dan online. Sesekali juga dinobatkan sebagai juara atau nominasi di antara sekian lomba cipta puisi, lokal maupun nasional. Berdomisili di Poteran Talango Sumenep, Madura.

Email: petanipuisi@gmail.com

Tags

Redaksi Jaazaidun.com

Tim Redaksi jaazaidun.com

Related Articles

Check Also

Close
Close