PuisiSeni & Buku

PUISI-PUISI AZIZI ZULUNG

Perihal Air

 

basuhlah segala

mengalirlah ke semua

 

aku hanyalah tetes yang mencair

memercik

meluas

hingga pada segala yang tak terbatas

 

teguklah penuh

basahlah seluruh

 

seperti yang kau tahu

aku adalah wujud yang tak tersentuh

dan kenyataan yang teramat rahasia.

 

Rumah Belimbing, 2018

 

Diri Kita

 

diri kita hanyalah bayang-bayang

lahir dari cahaya

memantul

dari dalam diri

seutuhnya sebagai teka-teki

 

diri kita adalah wujud nisbi

dari yang hakiki

bukan menyerupai,

apalagi abadi?

 

diri kita sebatas lukisan

yang digerakkan penciptaan

menuju ketiadaan

bukan untuk meniadakan.

 

Rumah Belimbing, 2018

 

Catatan Harian di Kampung Halaman

 

masih seutuhnya

aku mengenalmu sebagai tanah yang perjaka

hijau rerumputan, kuning padi dan

kicau burung pipit

di pagi hari

menjelang matahari meninggi

tentu, mengapa cahaya itu tidak hanya lahir dari matahari

juga dari binar mata petani

karena di sini, masih begitu murni kita merasakan kasih sayang bumi.

 

hembus angin menyisir ruas reranting

meski sebagaimana kita tahu

di sini adalah pegunungan

memeluk batu-batu

basah embun tetap lahirkan kesejukan

dan kibas dedaun

masih begitu asri suguhkan kehangatan.

 

Rumah Belimbing, 2018

 

Subuh Petani

 

inilah subuh petani

retas di antara apit keras tanah dan nanggala

meyerupa kerontang

dan gersang daun-daun:

di jela hijau rerumputan

tumbuh kembang pengharapan

di tandus bebatuan

aku lahir sebagai musim

seumpama kelopak bunga

ranum, dan bermekaran sebelum waktunya

mengeja riuh angin

pukau

dan lalu-lalang kemarau berkepanjangan

aku hanyalah musim yang terlupakan

ahh!

hilir waktu,

bukan lagi alamat baru

gugur berganti semi

apalagi kemarau mengundang hujan

sudahlah!

aku hanyalah musim yang terlahir bersama kutuk kerontang.

 

Rumah Belimbing, 2018

 

Subuh Nelayan

 

di asin lautan

aku hanya memercik

di celah lubang-lubang jejaring

merapal nasib

pada kedalaman laut

memanjat hajat

pada lapuk perahu berkarat

di sanalah

kita adalah takdir yang saling mengalah

tak ada dusta dalam ikhtiar

ataupun atas rahasia kibar layar.

 

Rumah Belimbing, 2018

 

*Azizi Sulung, lahir di Sumenep, 7 Juli 1994. Santri Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, Madura. Kumpulan Puisinya yang telah terbit, Accident: Malapetaka Terencana (2011), Simposium (2012), Solitude (2012), Luka-Luka Bangsa (2015), dan Rampai Luka (2016) dan Senyuman Lembah Ijen (2018). E-mail: p_sulung52@yahoo.com No. Hp: 082331712147, Rek: 1930-58-48-23. 

Tags

Redaksi Jaazaidun.com

Tim Redaksi jaazaidun.com

Related Articles

Close