PuisiSeni & Buku

Puisi-puisi Ibna Asnawi

Multa Tuli

gelap dan cahaya selalu hidup dalam diri masing-masing, Multa
lampu-lampu benderang menuju langit
langit membias lewat cahaya matamu.
malam-malam tertambat hitam yang panjang
mesin ketik memecah inginmu yang dingin.

apa yang bisa kausentuh selain kelam kehidupan?
hanya suluh merah-putih yang mampu menunjukkanmu jalan pulang ke arah padang bulan paling rumah

jarak.
betapa membentang.
betapa meluas.
batas pilu selama waktu di punggungmu menanggung rindu.

 

Tampaknya Aku Cemburu

tampaknya aku cemburu
riuh kenangan bersimpuh dalam puisi-puisimu

di waktu pagi
engkau pinang kecantikannya
dengan kehati-hatian embun menerjuni daun

di waktu siang
menjelma cintamu terik matahari
panasnya tak diampun embun-embun

apakah aku bisa menjadi sore?
sementara senja yang larut adalah ciuman terlalu sekarat bagi kenanganmu yang nikmat
apakah aku kuasa merupa malam?
sedang pekatnya adalah bodoh yang kupuja berulang-ulang

tampaknya aku cemburu
bulir-bulir sajakmu ranum menggaris jejak
pagi-siang aduhai memburu
dadaku pilu meredam bijak

 

Bapak

bapak oh bapak
jangan dulu pulang sebab kantong masih penuh isak
acuhkan saja panggilan rumah walau bertalu
kita masih butuh tabuhan wajan dan tarian nampan bagi sebagian yang bersambut pulang

bapak oh bapak
di sini di bantal pulasku
di rumah paling semu kerap kupanggil namamu sungguh sesak
rindu-rindu berjejalan
pilu-pilu berhamburan
mengapa kerap kali gagal memeluk gulungan ombakmu yang seakan kekal?
diburu sunyi bagai mengeram ingin tak kesampaian, pak
tiada sudah aku dibekap buih lautan hidup ini

lalu seperti apa Tuhan menumbuh-biakkan bara hatimu itu
lesap berulang tak pernah bimbang
riuh dalam sepi dibalut kesendirian
dan aku akhirnya menyerah membumbuimu dengan serba alasan

 

Bersama Subuh

mohon ampun aku kepada pemilik sepi
subuh yang teramat gigil ini aku tak kembali
namun kepada tuhan pasrah kuberi
engkau yang tulus dirindu hati

dingin mencekik iman demikian keji
bayi-bayi kantuk tak henti dininabobokkan
aku yang lain menangis dalam halimun diri
tak jua berhasil lari dari amukan anani

kupinta tak usai kupinta
matamu yang firdaus, tatapmu yang kudus
meski kini iman semakin tirus
cahaya matamu sempurna membius

kalau begitu namai aku kekasih
yang merampungkan kisah dalam lelap
di dalam gelap

 

Senandung Kerinduan

kutu-kutuku mengarang kidung ratapan
berhambur kemudian teratur membentuk barisan
lagunya menceritakan kerinduan
tentang jemari ibuku yang telah lama tak pulang

sarang mereka sunyi dibadai sepi
ibuku terbang melukis pelangi

suatu hari aku dibawa ke Jakarta
menatap genangan cahaya gemerlap membalut ibu kota
dari dalam kepala aku berkata, selamat terjangkit virus suka cita kutu-kutuku tercinta

ibuku bukan ibu kota meski cahaya melaut dari matanya
ia bidadari puisi, samudra diksi, surga kekasih
makhluk di atas kepala memujanya lantaran wajahnya yang semerah darah, senyumnya serekah senja, hatinya sebersih air mata.

Ibna Asnawi, Lahir di Sumenep, 07 Nopember 1996. Sedang mengaji di PP. Annuqayah Daerah Lubangsa Putri. Dapat ditemui di: Ibna Asnawi (Facebook) dan ibnadonut@gmail.com

Tags

Redaksi Jaazaidun.com

Tim Redaksi jaazaidun.com

Related Articles

Check Also

Close
Close