BukuSeni & Buku

Menguatkan Peran Guru Ngaji dan Islam Nusantara

Peresensi: Junaidi Khab*

Jaazaidun.com — Buku ini merupakan karya langka yang mengulas seputar kehidupan guru ngaji langgar dan seperangkat tugas serta tanggungjawabnya bagi masa depan pendidikan anak muda atau generasi bangsa. Bahkan, dengan begitu intens penulis berusaha menempatkan guru ngaji langgar pada tataran utama dari sekian guru setelah kedua orangtua.  Kata “langgar” di sini bermakna surau atau musolla yang biasanya banyak ditemukan di pelosok desa. Memang sudah ada yang mengulas tentang guru ngaji langgar ini, namun tidak sampai begitu luas dan mendalam.

Para guru ngaji langgar bukan hanya layak menyandang julukan “guru tanpa tanda jasa” seperti nyanyian Oemar Bakri tempo dulu yang melegenda itu (hlm. 2). Karena mereka mendidik anak-anak generasi muda bangsa tanpa memungut biaya dan tak pernah diprogramkan dana oleh pihak mana pun, termasuk oleh pemerintah. Berbeda dengan guru-guru setelah guru ngaji langgar, mereka guru-guru yang masih mendapat jaminan dana dan tunjungan, baik dari lembaga sendiri atau pemerintah.

Mereka (para guru ngaji langgar) dalam berbagai lini sosial kadang sering kita lupakan. Bahkan mirisnya tak pernah dianggap karena jasa-jasanya yang tertanam begitu dalam. Sehingga sulit terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Kita bisa mengibaratkan guru ngaji langgar ini dengan gula yang dicampur ke dalam kopi beserta air hangat. Gulanya memang tidak bisa kita lihat, namun rasa manisnya masih tetap melekat di lidah.

Di zaman yang terus menggelinding maju, guru ngaji langgar lambat-laun bagai ditelan bumi. Pola pendidikan anak kita berganti pendidikan anak usia dini (PAUD) atau taman pendidikan al-Quran (TPQ) dengan seperangkat aturan formal. Sehingga, peran penting guru ngaji langgar tak begitu dilihat kembali.

Di pelosok desa memang masih ada. Tetapi, tidak seperti dulu lagi. Para generasi muda tak lagi banyak dituntut oleh orangtuanya agar mengaji atau belajar ke langgar atau surau. Orangtua masa kini sudah bisa dipengaruhi oleh anak-anaknya yang berpikiran modern. Tak heran jika ada banyak generasi muda yang membangkang dan melakukan tindakan-tindakan di luar batas hingga menjadi berita nasional.

Pendidikan Karakter

Anak-anak yang berada dalam didikan guru ngaji langgar diajari tentang membaca abjad-abjad Arab dan selebihnya abjad latin dengan mengikuti arus perkembangan yang aktual. Dari sana pula, sebenarnya pendidikan karakter yang beberapa tahun terakhir ini menjadi program pemerintah. Jika pemerintah membicarakan tentang pendidikan karakter bangsa, sudah tertinggal jauh dari usaha para guru ngaji langgar dalam mendidik karakter di langgar atau surau.

Jika ditinjau dari indikator-indikatornya, pada hakikatnya memang guru ngaji langgar sudah menerapkan pola pendidikan karakter lebih awal (hlm. 44). Namun, dari program pendidikan karakter yang dicanangkan pemerintah, seakan pemerintah yang memulai terlebih dahulu. Mungkin ini merupakan sebuah wacana politik pemerintah agar mereka dipandang memiliki kinerja mulia bagi kehidupan bangsa Indonesia.

Pesona pendidikan masyarakat lokal di nusantara sebenarnya sudah ada sejak dulu. Tetapi, pemerintah melalui tangan besinya menerapkan undang-undang pendidikan meskipun kadang segala aturan yang dibuat tidak relevan dengan kebutuhan masyarakat. Pola pendidikan karakter dicanangkan, namun kurikulum yang berbasis pada kebutuhan masyarakat dan mengutamakan pendidikan karakter tak begitu dijadikan bahan pertimbangan. Di sekolah-sekolah atau perguruan tinggi, sangat jarang kita menemukan para siswa atau mahasiswa yang memiliki karakter mulia. Mereka tampak begitu individual seperti dalam film-film Hollywood buatan luar negeri.

Kehadiran buku ini menjadi sebuah tamparan bagi kita dan pemerintah. Kita sebagai bangsa yang menjunjung tinggi pendidikan dan moral harus tetap memberikan ruang bagi para guru ngaji langgar. Mereka adalah guru bangsa. Pemerintah harus memandang dengan mata bijak untuk tetap memosisikan para guru ngaji langgar sebagai corong penggerak atau pelopor pendidikan nasional. Jika tanpa peran para guru ngaji langgar, mustahil bangsa kita bisa membaca atau menulis yang menjadi bekal menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi di tataran nasional atau internasional.

Buku ini masih jauh dari sempurna sebagai bahan pemikiran. Ada banyak kesalahan dalam menuliskan rujukan ilmiah dan keteledoran dalam penulisan yang tepat dan akurat sesuai EYD atau EBI. Sehingga pembaca harus bersabar dengan kekurangan tersebut untuk membaca dan mencernanya. Namun, gagasan-gagasannya sangat brilian dalam ikut menyadarkan kita, pemerintah, dan generasi bangsa untuk terus mendukung peran penting serta eksistensi guru ngaji langgar bagi masa depan pendidikan anak bangsa Indonesia. Mereka pada hakikatnya warisan Islam Nusantara, juga menjadi pelopor pendidikan nasional yang sedang kita jalani saat ini.

 

Judul               : Warisan Islam Nusantara Guru Ngaji Langgar (Tantangan Tradisi dan Dakwah)

Penulis            : Drs. H. A. Bashori Shanhaji, M.Si.

Penerbit           : Muara Progresif

Cetakan           : I, Juni 2016

Tebal                : xxv + 207 hlm. 14,5 x 21 cm

ISBN                : 978-602-72445-4-2

 

* Peresensi adalah Akademisi dan Pecinta Baca Buku asal Sumenep, lulusan UIN Sunan Ampel Surabaya. Sekarang Tinggal di Yogyakarta. Penulis lepas. Karyanya terangkum dalam “Novelisme: Pengakuan Pembaca Novel” oleh Bilik Literasi dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Taman Budaya Jawa Tengah (2013), “Humor di Tanah Melayu” (Esai pilihan Riau Pos (2014), “Origami Story” (2016). Juga menulis karya berupa resensi, opini-esai, liputan, cerpen, dan puisi yang dimuat di beberapa media lokal dan nasional.

Tags

Redaksi Jaazaidun.com

Tim Redaksi jaazaidun.com

Related Articles

Check Also

Close
Close