CerpenSeni & Buku

Kiai Basrah dan Itik yang Tidak Bisa Bertelur

Oleh: Juwairiyah Mawardy

Jaazaidun.com — Sejak dirinya semakin kukuh menjadi seorang kiai yang dihormati, kiai Basrah justru merasa semakin berat memegang amanah dan kepercayaan masyarakat. Sekalipun saban hari ia mulang (mengajar) mengaji santri dan mengisi pengajian rutin malam Kamis, ia masih merasa kurang dalam pengabdiannya sebagai abdi masyarakat.

Dirinya memang bukanlah pejabat negara yang mengabdi karena dibayar negara tapi kiai Basrah merasa bahwa amanah dan kepercayaan masyarakat pada dirinya kurang lebih sama nilainya dengan  amanah pada pejabat negara yang memiliki gaji besar dan aneka fasilitas mewah dari negara. Bahkan sekalipun predikatnya sebagai kiai tidak dikukuhkan melalui sebuah ritual bernama sumpah jabatan. Amanah tetap saja amanah.

Kiai Basrah merasa semakin perlu untuk memiliki rasa tawadhu di hadapan sesama insan ketika nama masyhurnya semakin meluas bahkan hingga lintas kabupaten. Jika musim Isra’ Mi’raj, musim Halal Bi Halal usai lebaran, musim perayaan kelahiran Nabi Besar Muhammad, betapa laris dirinya diundang sebagai penceramah. Seandainya artis, kiai Basrah sedang naik daun, begitu istilah putera sulungnya yang masih kelas tiga es em pe.

Memang, kiai Basrah masih tergolong muda, tapi soal ilmu agama dan tatakrama sebagai tokoh masyarakat, tak kalah dengan yang sudah senior. Beberapa waktu lalu, karena popularitasnya sebagai penceramah yang digemari, kiai Basrah ditawari ‘kursi’ untuk menjadi anggota dewan. Para pembujuknya itu mengatakan bahwa jika dirinya mencalonkan diri, niscaya akan banyak yang mencoblos. Soal uang, gampang, kata mereka.

Tapi kiai Basrah menolak halus. Dengan rendah hati ia berkata bahwa tugasnya bukan mengurus rakyat, tapi ummat, dan itu lebih berat. Bukan karena tidak digaji tetapi karena amanahnya langsung dari Allah, bukan hanya dari sesama manusia.

Kiai Basrah merasa lega terbebas dari bujukan untuk menjadi kiai yang berpolitik. Sudah banyak ia saksikan fakta, kiai menjadi lupa mengurus santri dan masyarakat bawah setelah menjadi anggota dewan. Mereka lebih sibuk untuk pelesir, menambah harta dan istri serta mabuk dengan kedudukan. Bukan sok suci, tapi kiai Basrah tidak hendak meraup amanah yang berat yang kira-kira tak akan sanggup untuk dijalankannya. Cukuplah sebagai kiai saja. Titik.

Kemasyhurannya ternyata membuatnya dipercaya banyak orang bahwa doanya makbul, mudah diterima oleh Yang Mahakuasa. Padahal kiai Basrah tidak merasa begitu. Menurutnya, siapa saja yang berdoa sungguh-sungguh sambil memohon ampun pada Allah serta merendahkan diri di hadapan-Nya, insyaalah doanya akan mudah diterima.

Allah tidak akan pilih kasih dalam mengabulkan doa. Mau kiai, pejabat, pemulung, pedagang, laki-laki, perempuan dan semuanya, punya kesempatan yang sama untuk diterima doanya. Cuma waktunya saja yang tidak sama.

Suatu hari, ada seorang laki-laki tetangga jauh kiai, sowan. Sebetulnya siang itu kiai sedang  ingin istirahat setelah beberapa malam sebelumnya sibuk dengan safari dakwah. Maklumlah, musim halal bi halal usai hari raya, jadi banyak undangan ceramah yang harus dihadirinya.

Setelah orang itu dipersilakan masuk, kiai menanyakan keperluannya.

“Anu, kiai…” orang itu mengeluarkan sebuah botol air minum ukuran sedang.

Kiai mengerutkan kening. Pasti orang minta air doa. Tapi, tumben, kali ini orang membawa sendiri air minumnya. Biasanya kiai memberikan air doa dengan air milik kiai sendiri yang memang air minum biasa tapi dibacakan doa ke dalam air itu. Biasanya air doa itu untuk orang sakit.

“Kiai, saya minta tolong pada kiai, saya mohon air ini didoakan, untuk saya…”

“Insyaallah,” kiai mengangguk. “Sampean sakit apa?”

Orang itu buru-buru memperbaiki duduknya. “Oh, bukan saya, kiai, tapi…untuk itik-itik saya…”

Kiai tercengang tapi berusaha tenang. Dalam hati sang kiai juga merasa sedikit geli. “Itik-itik…?”

Orang itu tersenyum. “Mm…benar, kiai. Sudah sepuluh hari ini itik-itik saya tidak bertelur lagi. Tapi mereka tidak sakit, kiai. Saya juga heran…makanya akhirnya saya ke sini. Siapa tahu kiai dapat mendoakan itik-itik saya itu agar bisa bertelur kembali. Penghasilan saya hanya itu, kiai, untuk menghidupi keluarga dan sekolah anak saya…”

Kiai manggut-manggut sambil berpikir keras bagaimana menanggapi permintaan orang ini. Sepanjang dirinya disebut kiai, memang banyak orang meminta doa melalui media air yang diminumkan pada orang sakit, mohon kesembuhan, ketenangan hati dan sejenisnya. Tapi, kiai tidak pernah membacakan doa ke dalam air yang akan diminumkan pada hewan apapun.

“Saya sebenarnya ingin bisa membantu sampean, mendoakan agar masalah yang sampean hadapi dapat terselesaikan. Tapi, saya tidak memiliki doa khusus untuk membuat itik-itik bisa bertelur atau sejenis itu, saudara…”

Orang di hadapannya nampak agak layu mendengar kata-kata kiai. Tapi kemudian ia berkata;

“Saya hanya tahu bahwa doa kiai manjur, gampang diterima Gusti Allah. Saya tidak tahu apakah memang ada doa khusus untuk itik agar bisa bertelur atau tidak. Tapi saya percaya, melalui doa kiai, itik-itik saya akan dapat bertelur kembali. Saya tidak tahu bagaimana kiai akan mendoakan itik-itik saya itu…” orang itu kembali menyodorkan botol airnya.

Kiai lagi-lagi berpikir keras. Ya Allah, bagaimana saya akan menolong orang ini? Sambil berpikir dan mengingat yang Mahakuasa, kiai melirik oleh-oleh tamunya yang diletakkan tak jauh dari pintu. Sepertinya istrinya akan senang dengan oleh-oleh rengginang yang cukup banyak itu. Nanti bisa disuguhkan pada tamu-tamu mereka.

Dan kiai yakin bahwa tamu di hadapannya tidak akan bersalaman dengannya dengan tangan kosong. Pastilah ada sesuatu menempel di balik tangannya.

Dan tentu saja, kiai sangat tidak ingin ada tamu yang sowan kepadanya kemudian pulang dalam keadaan kecewa karena dirinya tak dapat membantu si tamu. Bukankah tamu adalah raja? Tamu harus disenangkan hatinya, apalagi tamu yang datang hendak meminta tolong.

Tapi bagaimana kalau dirinya tak dapat membantu orang itu untuk membuat itik-itiknya bertelur kembali?

Kemudian kiai seperti mendapat ilham yang menuntunnya menerima botol air yang disodorkan tamunya itu. Dia pamit sebentar hendak ke kamar.

Di kamarnya, lagi-lagi kiai bingung. Doa apa yang akan ia bacakan ke dalam air di tangannya ini? Tiba-tiba ia ingat petuah gurunya dulu. Dalam keadaan bingung menghadapi suatu persoalan pelik, ingatlah Allah, kemudian ingatlah Rasulullah, kemudian ingatlah para sahabat Rasul, kemudian ingatlah kedua orang tua. Kiai kemudian membaca doa dan surat Al-Fatihah untuk mereka semua dan dengan khusyu berdoa kepada Allah bahwa ia ingin sekali menolong tamunya di luar sana itu.

Dengan sungguh-sungguh kiai berdoa memohon pertolongan Allah. Di akhir doanya ia membisikkan shalawat sebanyak tiga kali kemudian meniupkannya ke dalam air dalam botol.

Dengan tenang kiai menemui tamunya kembali.

“Alhamdulillah sudah saya doakan air ini, saudara. Tapi, jangan sekali-kali bertuhan pada air ini. Sampean harus yakin bahwa Allah akan menolong sampean. Air ini hanya alat. Doa saya juga hanya jalan. Selebihnya, kuasa Allah yang akan menolong sampean. Semoga itik-itik sampean bisa bertelur kembali. Jangan lupa, bersedekahlah kepada anak yatim dan fakir miskin jika banyak rejeki…”

Orang itu mengangguk-angguk dan dengan suka cita menerima kembali botol airnya. Raut wajahnya seolah-olah telah melihat itik-itiknya dapat bertelur kembali.

Seperti yang diduga, oleh-oleh dekat pintu itu memang untuk kiai. Dan tentu saja tamunya tak lupa menyelipkan salam tempel ke dalam tangannya dengan takzim.

Sepulangnya orang itu, kiai kembali berdoa, semoga Allah benar-benar menolong kesulitannya.

Tak sampai seminggu, orang itu kembali. Kali ini membawa oleh-oleh yang lebih banyak. Bukan hanya rengginang tapi juga kerupuk, udang kering dan cumi. Daerah tempat tinggal orang itu memang banyak usaha budi daya lautnya.

“Bagaimana kabarnya?” kiai menyapa.

“Aduh, Alhamdulillah benar, kiai. Setelah itik-itik itu saya beri minum campuran air yang sudah didoakan kiai, besoknya itik-itik saya kembali bertelur. Saya mengucapkan terima kasih banyak pada kiai…”

Kiai tersenyum. “Syukurlah. Bersyukurlah kepada Allah. Sekali lagi, jangan lupa, bukan saya yang membuat itik-itik sampean bisa bertelur kembali, tapi Allah. Jangan bertuhan pada air yang saya doakan. Hanya dengan izin Allah saya telah menolong sampean…”

“Iya, iya, kiai…bagaimanapun saya merasa amat senang dan bersyukur…sekali lagi terima kasih…ini sekedar oleh-oleh untuk kiai sekeluarga…”

Tak ketinggalan telur-telur itik berada di antara oleh-oleh tamunya kali ini. Dan juga salam tempel yang lebih tebal.

Malam hari, saat hendak istirahat dengan nyai, kiai urung bercerita tentang peristiwa itik tersebut pada istrinya. Khawatir nyai akan rasan-rasan pada khadimah  (pelayan) di dapur. Tadi siang kiai juga telah wanti-wanti pada tamunya agar tidak usah menceritakan peristiwa itik-itiknya yang dapat bertelur kembali itu pada orang lain.

Bukan apa-apa, kiai hanya tidak ingin orang-orang disesatkan dengan pemikiran bahwa dirinya dapat mendoakan hewan yang sedang sakit. Dirinya adalah pelayan masyarakat. Sebisanya ia akan membantu dan mengajarkan keagamaan pada masyarakat. Bukan menyesatkan iman mereka.

                                                                                                                                                                                  Karduluk, 2018

 

Riwayat Singkat:

 Juwairiyah Mawardy, telah menulis cerpen sejak tahun 1996. Hingga kini karyanya dimuat berbagai media lokal dan nasional. Di sela kesibukannya sebagai ibu rumah tangga dan pendidik, ia terus menulis dan mengkampanyekan cinta baca pada anak-anak didiknya. Tinggal di Sumenep.

Tags

Redaksi Jaazaidun.com

Tim Redaksi jaazaidun.com

Related Articles

Close