CerpenSeni & Buku

Rindu yang Ibu Ceritakan pada Malam

Cerpen: El-Yuks

Bapak

Nenek yang menceritakannya padaku, katanya bapakku orang paling manis di kampung ini, hari pertama ia datang semua tetangga pada ramai,

“Beruntung sekali Minah kedatangan tamu pemuda semanis itu.”

“Anak Minah yang keberapa yang akan dipersuntingnya?”

“Anakku sajalah.”

“Anakku saja.”

Begitu percakapan tetangga sebelah yang memang tengah berkumpul. Nenek bilang bibiku yang paling tua yang mendengarnya sendiri, menguping pembicaraan warga-warga itu yang kadang diselai tawa meledak. Mereka tak berbincang begitu karena iri, sebab itu hanya sebuah candaan emak-emak mewakili rasa bahagi mereka, karena kami semua sudah seperti saudara.

Apapun itu aku tak peduli, aku hanya peduli pada cerita nenek tentang bapakku, pemuda manis yang datang melamar ibu 30 tahun lalu, saat ibuku masih remaja 15 tahunan, dulu di kampung ini usia segitu memang sudah menjadi usia yang sangat pantas untuk sebuah pernikahan.

Nenek bilang bapakku benar-benar manis dengan mata bulat dan hidung mancung pada wajah cokelatnya yang oval, dia tinggi dan pundaknya kekar, rambutnya yang sampai leher bagian atas sedikit keriting di ujung, tangan besarnya sedikit kasar sebab sering bekerja di sawah dan membantu memahat kayu pada usaha mebel keluarganya.

Hari itu bapak datang bersama bapaknya mengenakan kemeja putih dan sarung cokelat, kopyahnya hitam polos. Hari itu tawa mengalir di beranda kecil rumah nenek.

“Bapakmu membuat suasana lamaran itu malah seperti sebuah pertemuan rutin sebuah keluarga besar, dia membuat aku dan kakekmu tertawa lebar dengan caranya yang sopan. Hari pertama dia  datang sudah mampu mencuri hati kami tidak hanya dengan wajah manisnya itu,” nenek tertawa sampai berair ujung mata keriputnya, mengingat bapak yang melucu di hari pertama itu.

Nenek bilang tidak hanya hari pertama itu bapak membuat mereka jatuh cinta, setelah lamarannya diterima dan dia menjadi bagian dari keluarga ini seminggu setelahnya, nenek dan kakek terus semakin menyukainya, bapakku tak hanya manis tapi sangat manis apalagi saat tersenyum dengan bibir hitamnya, bapakku tidak hanya berbahu kekar tapi semakin terlihat kekar saat setiap pagi mengisi kamar mandi dengan menimba air dari sumur, menggiring dua sapi besar kakek pembajak sawah membajaki sawah-sawah kakek setengah hari. Nenek bilang bapakku selalu tersenyum, dan ibuku adalah anaknya yang paling berntung mendapatkan lelaki seperti dia. Tapi, sepertinya Tuhanpun jatuh cinta pada lelaki baik dan manis itu tepat sepuluh tahun usia pernikahannya dengan ibu, dan aku masihlah seorang bayi dalam kandungan, ia di panggil Tuhan untuk kembali.

Hari itu pertengahan Ramadhan, bapakku diminta bapaknya untuk mengantarkan pesanan leamari karena pekerjanya sedang ada kesibukan lain, nahasnya, seperjalanan pulang, tepat saat hari baru saja sore, pikap yang dibawanya ditabrak truk yang memuat batu bangunan, bapakku meninggal tanpa sedikitpun luka dan memar di tubuh. Nenek selalu menceritakan itu dengan mata sepuhnya yang berkaca-kaca.

Ibuku kemudian memilih untuk membesarkanku yang masih dalam kandungan tujuh bulan dan kakakku yang sudah berusia sepuluh tahun sendiri setelah peristiwa itu, sampai aku sudah menjadi perempuan dewasa berusia duapuluh tahun dan kakakku sudah menjadi calon bapak, ibuku tetap memilih sendiri, tak mau membuka hati pada lelaki lain.

Nenek seringkali bercerita betapa dulu begitu bahagianya ibu, tepatnya keluarga besar ibu. Setiap malam rumah ibu selalu dipenuhi tawa, tawa ibu, tawa bapak, dan tawa kakak., kalau boleh akupun ingin tahu rasanya tertawa di antara mereka.

Ibu

            Pagi-pagi seperti ini ibu pasti sudah sibuk di dapur, meniup api di tungku sampai berkobar penuh menyala dari sela-sela giginya, ia pasti tengah sibuk  membuatkan kopi untuk nenek dan kakek, kemudian sibuk mengulek bumbu-bumbu dan membasuh ikan serta menggorengnya, atau membakar terasi pada api dalam tungku sampai aromanya memenuhi dapur dan menyelinap ke luar menyapa hidung siapapun yang lewat, ia pasti tengah sibuk mebasuh beras dan memasaknya, biasanya aku akan merecokinya dengan meminta menyisihkan air basuhan beras pertama, itu setahun yang lalu ketika pagi-pagi seperti ini aku masih di rumah dan belumlah merantau jauh ke kampus besar ini. Ah, ibu! Aku rindu.

Ibuku akan menghabiskan waktunya di dapur, sampai tuntas beres-beres tepat setelah kakek-dan nenek sarapan dan jam di masjid sebelah berdentang delapan kali, suasana tanean lanjhang di  luar rumah sudah sepi, orang-orang sudah pada pergi ke sawah ataupun sekolah, hanya nenek di rumah sebelah yang duduk berselonjor pada ­lencak di beranda rumahnya, menyeruput kopi.

Ibuku kemudian akan memilih mencuci ataupun mencari kayu bakar setelah beberapa pertimbangan. Begitu biasanya ibuku menghabiskan waktu setiap pagi.

Ibuku adalah perempuan biasa yang menghabiskan hari-harinya dengan biasa pula. Ibuku hanya perempuan biasa dengan wajah bulat dan mata dan hidung yang biasa-biasa saja, ia hanyalah perempuan kurus yang memilih untuk mengurus kakek dan nenek dimasa tua mereka ini dibanding saudara-saudaranya yang lain serta membesarkanku dan kakakku seorang diri, itulah yang membuatnya tak biasa. Ibuku adalah perempuan biasa jika sekedar kau lihat saja, tapi ibuku adalah perempuan luar biasa jika kau mengenalnya. Perempuan paruh baya dengan lesung pipit di pipi saat tersenyum, dan ia begitu sering tersenyum, mungkin kau akan berpikir hidupnya begitu mudah dan mulus saat kau melihatnya sering tersenyum begitu, tapi menurutku dia adalah perempuan yang mengemban beban teramat berat sejak bappak meninggal 20 tahun lalu.

Aku sudah banyak mendengar cerita tentang bapakku dari nenek, tentang bapak yang manis dan sebagainya, tapi ibu tak pernah sedikitpun bercerita padaku dan aku tak pernah berani bertanya, sejak suatu malam sebelas tahun lalu, aku mendengar sendiri ibu menangis dalam sujudnya, lantas masih terisak dalam doanya sambil menggenggam erat tasbih cokelat yang kata nenek dulu adalah salah satu mahar dari bapak, setelah itu aku seringkali melihat hal yang seperti itu jika terjaga di tengah malam, awalnya kau tak mengerti, tapi kemudian aku paham, ibu sedang menumpahkan rindu.

Ibuku perempuan biasa yang hebat telah membesarkan anak-anaknya sebatang kara, menyekolahkannya sampai di jenjang-jenjang yang tinggi. Ibuku adalah perempuan biasa dengan lesung pipit di pipinya saat tersenyum, dan ia memang sering tersenyum. Ibuku adalah perempuan biasa yang memilih sendiri setelah bapak meninggal, tak mau memilih pengganti. Ibuku adalah perempuan biasa yang menghabiskan hari-harinya dengan biasa pula layaknya perempuan-perempuan desa, tapi selalu ada yang tak biasa di setiap sujud dan doa-doa di sepertiga malamnya, karena saat itu kau akan tahu betapa selama ini dalam hidupnya yang biasa saja ia menyembunyikan beribu rindu.

Bapak, ibu masihlah perempuan yang terus merinduimu!

Profil penulis.

El-Yuks nama pena dari Lailatul Yusro. Saat ini sedang menjalani masa kuliahnya di IAIN Jember. Aktif di Lembaga Pers Mahasiswa. Menulis cerpen dan puisi. Pernah menjadi juara tiga lomba cerpen se-Kabupaten Sumenep dalam lomba pelantikan IPNU dan IPPNU Kec. Bluto.

Tags

Redaksi Jaazaidun.com

Tim Redaksi jaazaidun.com

Related Articles

Check Also

Close
Close