CerpenSeni & Buku

Foto-foto Tran Huynh Thuong Sinh

Cerpen Yudhi Herwibowo

Kepada:

Panitia Sayembara Foto Hari Kemerdekaan Republik Demokrasi Vietnam

Perkenalkan, nama saya Tran Huynh Thuong Sinh. Saya ingin sekali mengikuti sayembara foto hari kemerdekaan negara saya tercinta. Tapi saya tahu menyadari, saya tak memiliki kamera yang cukup baik. Untungnya, orang-orang di sekitar saya tetap paksa memaksa saya agar mengikuti sayembara ini. Karena mereka tahu, saya suka sekali memotret.

Maka itu, walau saya tak cukup mengerti cara teknik memotret, saya tetap memberanikan diri mengirim beberapa foto yang saya potret dalam beberapa tahun terakhir. Keterangan foto itu saya tulis di belakang foto-foto itu.

Semoga panitia berkenan melihatnya.

Terima kasih.

Tran Huynh Thuong Sinh

Foto 1

Foto sebuah desa yang bersebelahan dengan sebuah perkebunan pisang. Diambil dari jarak yang cukup jauh, mungkin sekitar 30 meter. Dengan posisi yang nampak sedikit lebih tinggi. Beberapa rumah kayu yang sangat sederhana terlihat tak teratur, sementara pohon-pohon pisang nampak tumbuh teratur. Tingginya sudah mencapai sekitar setengah meter. Foto diambil pagi hari, saat cahaya matahari yang muncul dari samping masih terasa lembut. Samar-samar ada garis-garis cahaya yang terlihat. Namun sangat samar.

Keterangan foto:

Ini desa tempat orang tuaku berasal, sekaligus tempat aku dilahirkan. Di sebelahnya adalah persawahan dan perkebunan tempat warga desa bekerja. Letaknya ada di desa kecil di timur Provinsi Binh Dinh.

Foto ini merupakan gambaran pagi yang seperti biasa. Kabut masih nampak jelas, seperti muncul dari pori-pori tanah di seluruh desa. Sinar matahari yang hadir seperti kemudian merayapi pori-pori itu, untuk menutupnya satu demi satu.

Kata saudara-saudaraku yang masih hidup, keadaan desa ini tak jauh berubah dibanding keadaannya 40 tahun yang lalu. Hanya penghuninya saja yang terus berganti dari generasi ke generasi.

Foto 2

Foto close up seorang laki-laki muda berumur kurang lebih 22 tahun yang sedang tertawa lepas. Kulit wajahnya nampak kotor, walau terlihat jelas sisa-sisa air di tepi wajahnya, tanda ia baru saja membersihkan diri. Matanya sipit dengan gigi-gigi yang nampak hitam keropos. Tubuhnya terlihat sangat kurus dengan tulang-tulang dada yang sedikit terlihat.

Keterangan foto:

Ini Kakak. Tentu bukan kakakku yang sesungguhnya. Sebenarnya lebih tepat kusebut sahabat karib. Nama aslinya Tran Minh Hung, tapi sejak dulu aku sudah memanggilnya Kakak. Kami tumbuh bersama. Usianya dengan usiaku hanya terpaut 2 tahun. Dapat dikatakan, kami adalah sahabat generasi kedua. Dulu ayahnya dan ayahku juga merupakan sahabat. Demikian pula ibunya dengan ibuku.

Kami selalu menghabiskan waktu bersama di teras rumahku. Ia selalu bercerita tentang apa pun. Kawan-kawannya, petualangan-petualangannya, dan kenakalan-kenakalan yang baru dilakukannya. Aku selalu suka cerita-ceritanya. Aku bahkan kerap tertawa terbahak saat mendengarnya.

Di foto ini, walau Kakak nampak terlihat normal dan bahagia, sebenarnya tidaklah seperti itu. Kakak sebenarnya menderita sakit keras. Paru-parunya cacat sejak lahir. Ini yang membuatnya sejak dulu, lebih kerap berada di rumah, karena ia tak bisa terlalu lelah.

Foto 3                                                                

Foto dua pigura yang kacanya sudah begitu kusam. Nampak bercak-bercak hitam di sekelilingnya kaca kusamnya. Debu juga sudah menyelimuti seluruh piguranya. Pigura pertama berisi foto seorang laki-laki muda, sedang di pigura satunya berisi foto seorang perempuan muda. Dua-duanya tengah tersenyum lebar. Jelas sekali foto itu dibuat puluhan tahun yang lalu.

Keterangan foto:

Ini ayah dan ibuku. Dua-duanya telah meninggal. Ayah pergi 7 tahun lalu, dan ibu pergi 4 tahun berikutnya. Aku bersyukur saat ayah meninggal, aku sudah cukup dewasa. Lebih beruntung lagi dua tahun kemudian perusahaan perkebunan di samping desa –tempat ayah dan ibu bekerja selama ini– mau menerimaku. Mungkin mereka hanya kasian padaku. Tapi apa peduliku? Setidaknya aku dapat terus mendapatkan pemasukan setiap minggu, hingga aku bisa membiayai hidupku dan hidup ibuku.

Sedikit penyesalan, aku merasa terlalu lambat untuk dewasa. Sehingga tak bisa memiliki uang. Bila aku sudah bekerja lebih cepat dari sekarang, aku bisa membeli kamera untuk memotret. Di pasar loak, aku bisa mendapatkannya dengan harga terjangkau. Sehingga aku bisa memotret ayah dan ibu sebelum mereka pergi.

Tapi Kakak tak pernah setuju dengan impian itu. Walau aku tak pernah menanyakannya mengapa, tapi setelah kupikir-pikir ketidaksetujuannya memang beralasan.

Oya, foto ayah dan ibu ketika muda adalah foto yang indah. Mereka terlihat begitu gembira. Aku tak tahu bila aku memotretnya sekarang, apakah mereka masih bisa tersenyum selebar itu?

Foto 4

Foto dua rumah kayu yang saling bersebelahan. Dipotret kala senja mulai datang. Semburat-semburat hitam sudah terlihat di belakangnya, seiring warna oranye yang mulai menyebar.

Keterangan foto:

Ini foto rumah ayah dan dan ibu serta rumah di mana kakak tinggal. Rumah kami memang bersebelahan. Aku bahkan bisa mendengar saat ayah kakak bersin. Dulu keadaan dua rumah kami cukuplah ramai. Ada ayah dan ibu, serta ayah dan ibu kakak. Kini, sejak ayah dan ibu tak ada, aku tinggal sendiri saja di situ. Ayah dan ibu kakaklah –yang kupanggil paman dan bibi– yang mengurus diriku selama ini. Mereka juga yang kerap menyuruh kakak menemaniku.

Foto 5

Foto seorang laki-laki bertopi koboi yang sedang berkacak pinggang. Ia membelakangi orang-orang yang nampak bekerja di sekitar kebun, dengan menggunakan masker pelindung.

Keterangan foto:

Ini Mang, mandorku di perkebunan. Dulu ia juga mandor ayah dan ibu. Aku tak pernah menyukainya. Dulu aku bahkan sering menyumpahinya agar ia mati  mengenaskan. Ia sangat galak dan suka menendang bokong kami, para pekerja perkebunan. Bila aku terlihat sedikit lambat, ia akan berteriak keras, “Hei, keledai dungu, jangan bermalas-malasan! Apa kau tak sadar keberadaanmu di sini karena aku kasihan padamu?”

Dulu, aku –dibantu kakak– pernah mencoba mengerjainnya. Diam-diam aku meletakkan kelabang di dalam celana yang tengah dilepasnya. Kelabang itu berhasil menggigit bagian di sekitar penisnya, Hingga membuatnya tak masuk kerja hingga 1 bulan. Untunglah, ia tak mati karena racun itu.

Tapi gara-gara kejadian itu, aku menyesal telah membencinya. Ya, walaupun galak, ia tetap membayar kami semua dengan baik. Diam-diam aku bersyukur, ia tak pernah tahu kalau dulu aku dan kakak pernah mengerjainnya.

Foto 6

Foto sebuah bangunan besar bercat putih yang Nampak ramail. Di depannya telihat tulisan: The Tu Du  Obstetrics and Gynaecology Hospital, Ho Chi Minh City, Vietnam.

Keterangan foto:

Ini merupakan rumah sakit yang sampai sekarang masih kudatangi bersama kakak. Kata kakak, keadaannya sekarang jauh lebih modern dari beberapa tahun yang lalu. Tu Du sendiri berarti ‘Kebebasan’. Ada sebuah ruangan yang sangat kusuka di sana, namanya Ruang Kedamaian. Sayangnya, aku tak lagi bisa ke sana.

Foto 7

Foto dua orang gadis kecil yang sedang tersenyum. Usianya mungkin sekitar 8 dan 10 tahun. Yang lebih muda nampak tak memiliki kaki kiri, sedang yang lebih besar nampak tak memiliki tangan kanan.

Keterangan foto:

Ini foto kakak beradik Hue dan Loan. Mereka juga bocah dari desa yang sama sepertiku. Keduanya merupakan korban Agen Oranye[1] puluhan tahun yang lalu. Sehingga kini, mereka terlahir cacat. Walau Loan hanya memiliki satu kaki, ia merupakan seorang pelari yang baik. Bila aku bertemu dengannya, aku akan berteriak padanya, “Kau mau berlomba ke ujung sana? Akan kubelikan mie ayam kalau kau bisa mengalahkanku?”

Dan Loan akan segera menyanggupi tantanganku. Hue akan bertepuk tangan meyemangati adiknya. Aku tentu saja kalah darinya. Tapi itu tak mengapa. Kupikir membelikannya mie ayam buat mereka, bukan masalah. Apalagi saat aku tahu mereka memakannya dengan sangat lahap.

Aku menyukai keduanya. Mereka anak-anak yang baik. Selepas orang tua mereka meninggal, keduanya dibawa pergi oleh seorang tak dikenal. Kudengar mereka akan diadopsi. Tapi dalam perjalanan, sebelum sampai di rumah pengadopsinya, Hue dan Loan meninggal karena sakit.

Foto 8

Foto laki-laki tua yang tergeletak di atas pembaringan di sebuah ruangan yang sangat temaram. Matanya setengah terpejam. Bajunya yang setengah terbuka menampakkan tulang-tulangnya yang menyembul di kulitnya yang keriput.

Keterangan foto:

Ini adalah foto paman, ayah kakak. Aku sebenarnya memotretnya beberapa kali. Tapi selalu merasa tak pernah berhasil melakukannya. Mungkin karena aku masih terbawa perasaan masa laluku. Aku ingin sekali melihat wajah paman yang ceria seperti dulu. Tapi sekarang, sepertinya keinginan itu sangat tak mudah. Tubuhnya sudah terlalu kaku. Hanya matanya yang bergerak menatap setiap kedatanganku. Selebihnya, aku hanya mendengar suara napasnya.

Aku sedih melihatnya. Karena ialah ayah kedua bagiku selama ini. Ia yang merawat dan membiayaiku setelah kepergian ayah dan ibu. Ia juga yang memohon pada Mandor Mang agar aku bisa bekerja di perkebunan.

Foto 9

Foto seorang dokter yang sedang mengobati seorang bayi yang ada di gendongan seorang perempuan muda. Dokter itu memegang tangan si bayi yang semua jari-jarinya nampak menempel satu dengan lainnya.

Keterangan foto:

Ini adalah dr. Phuong Tan. Ia tak sekadar seorang dokter namun juga seorang ahli genetik yang kerap menangani korban akibat Agen Oranye. Sudah puluhan tahun ia bergelut di bidang itu.

Selama ini, dr. Phuong Tan secara rutin datang ke desa kami. Aku ingat, waktu aku kecil, orang-orang selalu bilang, ia seorang dokter muda yang tampan. Namun sekarang, kubayangkan walau nampak lebih tua dengan rambutnya yang sudah memutih dan gerakannya lebih lambat dari gerakannya dulu, ia tetap lebih tampan.

Kupikir sejak aku tak lagi dirawat di Ho Chi Minh, sempat terbersit ketakutan, bila aku tak akan bertahan lama. Untunglah, dr. Phuong Tan kemudian datang.

Sayangnya saat foto-foto ini kukirim, dr. Phuong Tan tak lagi datang ke desa kami. Seorang dokter lainnya datang menggantikannya. Saat kutanyakan keberadaan dr. Phoung Tan, ia hanya menjawab pendek, “Ia sudah meninggal sebulan yang lalu…”

Foto 10

Foto sebuah demonstrasi kecil. Diambil dari jarak yang cukup jauh. Tapi masih jelas terlihat bila orang-orang yang berkerumun itu adalah foto para pekerja perkebunan yang dibantu oleh LSM setempat. Ada beberapa spanduk yang masih bisa terbaca dengan jelas: ‘Tuntut Tanggung Jawab Amerika!’ dan ‘Biaya Penuh Korban Agen Oranye!’. Sayangnya hanya dua yang bisa dibaca, yang lainnya tak cukup utuh untuk dibaca.

Keterangan foto:

Ini foto demonstrasi di desa kami. Sebenarnya demonstrasi seperti ini sudah sering terjadi. Hanya saja, aku tak bisa berada terlalu dekat di antara mereka. Paman dan bibi telah melarang kakak dengan keras. Sehingga ia tak punya keberanian membawaku ke sana. Maka itulah, aku hanya bisa memotretnya dari jauh. Hasilnya tentu tak terlalu sempurna. Buram dan sedikit tak fokus.

Tapi foto ini tetap kusertakan di sini, karena aku ingin bersyukur, masih ada orang-orang yang memikirkan hal itu, di saat hampir dari kami semua telah begitu putus asa.

Foto 11

Foto seorang gadis muda berusia 20 tahun. Apa yang ada di wajahnya nampak sedikit aneh. Kedua matanya sepertinya menghilang begitu saja. Mata kanannya seperti tertutup daging di sekeliling matanya. Sedang mata kirinya bahkan tak lagi berbekas ada di mana. Namun walau begitu, gadis muda itu tersenyum sangat lebar.

Keterangan foto:

Gadis di foto ini merupakan korban Agen Oranye lainnya, sama seperti kakak, Hue dan Loan bersaudara, serta bayi yang tengah diperiksa dr. Phuong Tan. Sejak bayi, ia sudah dirawat di The Tu Du Obstetrics and Gynaecology Hospital selama bertahun-tahun. Namun saat beranjak remaja, ia memutuskan untuk berhenti dan kembali ke desanya.

Dengan kekurangannya itu, ia selalu bermimpi menjadi seorang fotografer. Ia bersyukur memiliki kakak, seorang sahabat yang selalu bisa menjadi mata baginya. Kakaknya itu yang selalu bercerita tentang apa yang tengah dilihatnya. Kakaknya pula yang selalu melukiskan apa yang hendak dipotretnya dengan sangat terperinci dan menjelaskan keadaan disekelilingnya dengan begitu baik, bahkan hingga gerakan debu-debu pun tak terpikirkan olehnya. Lalu pada akhirnya saat foto itu jadi, kakaknya juga yang menjelaskan hasilnya di setiap milinya.

Iniadalah foto diriku.

[1] Agen Oranye adalah julukan yang diberikan untuk herbisida dan defolian yang digunakan Militer Amerika Serikat dalam perang herbisida selama Perang Vietnam sepanjang tahun 1961-1971. Sejumlah herbisida digunakan untuk menghancurkan produksi bahan pangan dan pepohonan yang dijadikan tempat persembunyian musuh. Studi lanjutan tentang ini menunjukkan meningkatnya resiko berbagai tipe kanker dan cacat genetis yang mengerikan.

Yudhi Herwibowo. Menulis beberapa buku. Buku terbarunya: Sang Penggesek Biola, sebuah roman tentang Wage Rudolf Supratman (Imania)

Tags

Redaksi Jaazaidun.com

Tim Redaksi jaazaidun.com

Related Articles

Check Also

Close
Close