CerpenSeni & Buku

DALAM DEKAP KASIHNYA

CERPEN AHMAD ZAINI

JAAZAIDUN.COM–Hari masih malam. Gelap dan sunyi mendekap suasana sebuah rumah. Suara dengkur dari dalam kamar menyerupai orkestra pertunjukan suatu pesta. Suara itu menandaskan bahwa siang masih jauh di depan. Diperkuat lagi tak ada kelesik penghuni kamar di sebelahnya. Penghuninya masih nyenyak merajut mimpi tentang kehidupan. Kehidupan yang selalu menawarkan percikan suka dan duka pada pelakunya.

Dari kejauhan kokok ayam jantan terdengar bersahutan. Suara unggas bertaji yang sebagian dijadikan ayam aduan itu mengabarkan pada warga bahwa pagi akan tiba. Cuitan burung dari balik rindang tanaman perdu di samping rumah itu turut menggugah warga kampung. Mereka harus bangun memenuhi undangan Tuhan lewat kumandang azan subuh dari surau kampung.

Riris terbangun dari tidur lebih awal daripada penghuni rumah yang lain. Matanya pelan terbuka. Tangan kanannya merayapi tikar pandan mencari korek api. Tangan kurus yang tinggal tulang berbalut kulit menyentuh benda yang dicari. Ia menyalakannya meski dengan memaksa. Sudut-sudut kamar terlihat samar. Mata cekung Riris menatap pada jam yang bergelantung di dinding kamarnya. Ia melihat jarum jam berlabuh pada angka empat.

Wanita bertubuh kurus ini segera mematikan korek apinya. Ia berseru lirih memanggil ibunya. Ibu Riris menimpali dengan suara parau. Ibu Riris bangun lalu berjalan menuju kamar anaknya yang berada tepat di sebelah kamar tidurnya. Ia membantu Riris bangun dari tidurnya. Ia mengangkat tubu anaknya yang sewaktu dia masuk masih terbaring lemah di atas dipan tua.

”Terima kasih, Ibu!” ucap Riris sambil merapikan rambutnya yang terurai.

Riris beringsut. Ia turun dari dipan dengan perlahan. Ia berdiri sambil berpegangan pada dinding papan. Riris berjalan merambati udara dingin menuju kamar mandi. Ia hendak membersihkan diri lalu bersuci untuk menghadap Ilahi.

Kamar berukuran 2 x 3 meter yang berada di sebelah kamar mandi telah rapi. Sajadah telah digelar ibunya menghadap kiblat. Mukena yang masih terlipat rapi di atas gelaran sajadah segera dipungut Riris. Riris memakai mukena itu dengan gemeter. Sedetik kemudian, Riris khusuk melaksanakan kewajiban salat subuh meski dalam kondisi fisik tak sempurna.

***

Usia Riris masih belia. Ia berumur 22 tahun. Penyakit aneh yang menjangkitinya membuat kondisi fisiknya setiap hari menurun. Meski usianya baru berkepala dua, Riris sudah seperti wanita paruh baya. Gaya berjalannya seperti nenek-nenek. Ringkih dan agak pengkar.

Ibu Riris sudah berusaha mengobatkan penyakit anaknya ini pada ahli medis. Puluhan dokter, tabib, dan dukun sudah pernah didatangi ibu Riris. Namun, hasilnya nihil. Dokter ahli yang bertugas di rumah sakit daerahnya pernah mengatakan bahwa Riris tidak mengidap penyakit apa pun. Demikian juga para tabib yang pernah didatanginya. Mereka juga mengatakan Riris tidak terjangkit penyakit apa pun. Akan tetapi, mengapa kondisi Riris semakin hari semakin menurun. Sering Riris tiba-tiba pingsan tanpa sebab. Matanya terbelalak. Napasnya tersengal-sengal seperti orang yang sedang sakarotul maut.

Ibu Riris juga pernah membawa anaknya ke seorang dukun. Ia dikabari tetangga bahwa di daerah pinggiran Malang ada seorang dukun hebat yang mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit dan guna-guna. Dengan tekad bulat ibunya membawa Riris menuju tempat dukun itu.

”Wanita kotor itu segera bawa kemari!” suara dukun itu secara tiba-tiba meyeruak keluar dari kamar lalu menyuruh keduanya masuk ke kamar praktiknya.

Ibu Riris sempat bengong. Ia tidak mengerti maksud dukun yang menyebut wanita kotor. Riris dan ibunya menengok ke kanan dan ke kiri mencari orang lain di ruang tunggu praktik dukun itu. Ia tidak menemukan seorang pun selain mereka berdua.

”Siapa yang Mbah maksud?” tanya ibu Riris dengan sedikit ketakutan.

”Wanita yang kau bawa itu. Bawa dia kemari,” jawab dukun dari dalam kamar.

Ibu Riris menatap wajah anaknya yang tertunduk menahan malu. Ia heran mengapa dukun yang belum menampakkan diri menyebut anaknya dengan sebutan wanita kotor. Dukun itu tahu dari mana?

”I – iya, Mbah,” jawab ibu Riris dengan gugup. Wanita paruh baya ini menuntun anaknya menuju ke ruang praktik dukun.

”Dasar wanita kotor! Tubuh dan jiwamu kotor. Pikiranmu kotor. Apakah kau setiap hari makan kotoran,” tanya dukun dengan kalimat pertanyaan nyleneh. Ibu dan anak itu terdiam. Mereka tidak menimpali pertanyaan dukun aneh itu.

”Jawab!” bentak dukun itu sambil menggebrak meja kecil di depannya. Aneka rupa kembang dan kemenyan di atas meja itu berjumpalitan. Barang-barang mistis itu jatuh dan berserak di lantai.

”I – iya, Mbah. Kami makan kotoran,” jawab Ibu Riris dengan gugup bercampur takut.

”Barang sudah rusak baru dibawa ke sini,” ucap dukun menyalahkan keputusan mereka yang dianggap terlambat datang kepadanya.

”Kami baru dapat kabar tentang praktikmu, Mbah,” sambung Ibu Riris menjawab pertanyaan dukun yang bertampang seram.

Lelaki tua yang berpakaian serba hitam ini tertawa lebar. Mulutnya menganga sampai kelihatan kerongkongannya. Ia menatap tajam kedua wanita di depannya sambil mengisap dalam-dalam sebatang rokok. Asap rokoknya lalu ditiupkan ke arah Riris dan ibunya.

”Anakmu ini sudah tidak bisa diperbaiki lagi. Dia sudah parah. Bawa saja pulang. Rawat dan perbaiki sendiri di rumah. Rongsokan dibawa kemari,” katanya kasar bernada mengusir kedua wanita ini.

Riris dan ibunya menundukkan kepala dalam-dalam. Mereka tidak mampu mengangkat kepala kemudian menatap wajah dukun yang telah menghinanya. Ibu dan anak ini tidak berani membantah kata-kata dukun itu. Mereka hanya diam sambil menyayangkan kata-kata dukun yang kasar sambil menghina Riris tanpa beban.

Kedua wanita malang ini meninggalkan rumah dukun dengan kecewa. Ia menggerutu sepanjang jalan.

”Bukannya obat yang kita dapat. Eh, malah kata-kata kasar dukun bangsat itu mendamprat kita,” kata ibu paruh baya itu kepada anaknya dengan nada kesal.

Nah, semenjak pulang dari rumah dukun di pinggiran Malang itu, Ibu Riris memutuskan akan mengurus dan merawat anaknya di rumah saja.

***

Riris duduk di halaman rumah. Ia menghangatkan tubuhnya dengan sinar matahari pagi. Dia menyisir pelan rambut panjang yang kelihatan jarang-jarang disanggul lalu diikat dengan gelang karet sisa pengikat belanjaan ibunya. Wajah Riris terlihat sayu. Kulit pipinya berkerut. Bola matanya bersembunyi di cekungan rongga mata dan hampir tak kelihatan. Tatapannya kosong. Tidak ada titik yang menjadi sasaran penglihatannya. Riris seakan melihat jauh ke belakang. Dia sedang mengingat dan merenungi masa silam sebelum ia diganjar Tuhan dengan sakit yang berkepanjangan.

”Ris, masuklah! Ini buburmu nanti terburu dingin,” seru ibunya yang berdiri di teras rumah sambil menyangga semangkuk bubur.

Riris menengok ke arah ibunya dengan pelan. Ia tidak mampu menoleh cepat seperti ketika masih sehat. Perlahan dia berdiri lalu berjalan dengan hati-hati ke arah ibunya meninggalkan kursi plastik di halaman rumahnya.

Ibu yang malang ini sabar sambil menanti langkah anaknya. Dia memperhatikan gerak-gerik anaknya. Ibu Riris khawatir ayunan kaki anaknya menyandung kumbung penahan tanah di teras rumah.

”Sudah tiga tahun aku dalam kondisi seperti ini. Sakit yang sampai kini tidak juntrung sebab-musababnya. Aku kasihan padamu yang merawat aku sendiri tanpa bantuan ayah,” kata Riris di depan ibunya yang hendak menyuapinya dengan bubur di tangan kirinya.

”Sabar, Nak! Ini sudah garis kehidupan yang harus kita jalani,” hibur ibunya.

”Garis kehidupan yang telah kubengkokkan telah menyengsarakan semua orang. Garis lurus kehidupan yang digariskan Tuhan telah aku terjang. Aku langgar sehingga ibu dan ayah turut menderita.”

”Sabar, Anakku! Yang sudah biarlah berlalu. Jangan kau ungkit-ungkit lagi!”

”Tidak, Ibu. Aku tidak bisa melupakan semua itu begitu saja. Aku menyesal telah memotong garis Tuhan dengan bergonta-ganti pasangan. Aku pernah membuang bayi hasil hubungan gelapku dengan mereka. Aku tidak pernah menghiraukan teguran ayah dan ibu waktu itu. Teguran Ibu dan Ayah kubalas dengan cacian dan umpatan. Aku menjadi barang mainan para lelaki hidung belang. Dan sekarang, aku menjadi barang rongsokan. Aku ingin mati saja,” kata Riris sambil membentur-benturkan kepalanya di tiang kayu penyangga teras rumahnya.

”Jangan kaulakukan, Nak! Hentikan!” bentak ibunya sambil merangkul tubuh anaknya yang terguncang jiwanya.

”Hidupku sudah tidak punya arti. Ayah telah lama menjauh dariku. Dia tidak memedulikan aku lagi. Para tetangga, para istri yang dulu suaminya kurebut, semua telah menjauhi dariku. Mereka telah menganggapku sampah dalam kehidupan mereka,” tangis Riris dalam dekapan ibunya.

”Jangan putus asa, Nak! Tuhan masih membuka pintu maaf buat hambaNya yang mau bertobat. Kau harus tegar menjalani hidup ini. Kau tidak sendiri. Kau masih bersama ibu,” ujar lembut ibu Riris sembari menempelkan bibirnya di telinga Riris.

Riris diam. Isak tangisnya berhenti. Ia mengangkat kepala dengan pela-pelan lalu memandang haru ibunya. Dia tidak menyangka ibunya masih sayang dan setia padanya meski Riris pernah menyakiti hatinya.

***

Suatu malam ibu Riris tidur sekamar dengan anaknya. Ia memeluk tubuh Riris dengan penuh kasih sayang. Ibu Riris merasakan keanehan saat tangannya menyentuh tubuh anaknya seperti batang pohon pisang yang dingin dan tak bergerak. Ia bangun lalu menyalakan lampu kamar. Ia melihat anak perempuannya terbujur kaku dengan mata terbuka lebar. Wanita paruh baya ini lantas menjerit sambil memanggil suaminya.

Suaminya langsung datang. Namun, lelaki yang selama ini sudah tidak memedulikan nasib anaknya hanya bisa berdiri mematung di samping jasad anaknya yang tak bernyawa. Kelopak kedua matanya berkaca-kaca. Bibirnya perlahan mengucap doa. Tangan kanannya bergerak pelan memejamkan kedua mata anaknya yang telah meregang nyawa. (*)

Lamongan, 7 April 2018

 

Ahmad Zaini, Lahir di Lamongan, 7 Mei 1976. Karya sastranya baik berupa cerpen maupun puisi pernah dimuat oleh beberapa media massa. Antara lain Kompas.com, okezone.com, Radar Bojonegoro, Duta Masyarakat, majalah MPA (kemenag Jawa Timur), majalah Indupati, Tabloid Maarif Lamongan, Tabloid Lensa Lamongan, Media (PGRI Jawa Timur), dan Majalah Wanita UMMI.

Puisi-puisinya terkumpul dalam buku antologi bersama di antaranya Bulan Merayap (DKL,2004), Lanskap Telunjuk (DKL, 2004), Khianat Waktu, Antologi Penyair Jawa Timur (DKL, 2006), Absurditas Rindu (Sastra Nesia Lamongan, 2006), Sehelai Waktu (Scolar, 2011), , Pengembaraan Burung (DKL, 2015), Matahari Cinta Samudra Kata (Yayasan Hari Puisi Indonesia, 2016), Antologi Puisi Penyair Dunia Kopi 1.550 mdpl (Takengon, Aceh, 2016), Mengunyah Geram (Yayasan Manikaya Kauci, YMK, Bali, 2017).

Cerpen-cerpennya terkumpul dalam buku kumpulan cerpenTelaga Lanang (Lima Dua, Gresik, 2012), A Moment to Feel (Pustaka Jingga, 2012), Sayap-Sayap Cinta (D3M Kail Tangerang, 2013), Matahari Baru Buat Katro (D3M Kail Tengerang, 2014), Lentera Sepanjang Rel Kereta (Pustaka Ilalang,2014), Titik Nol (Pustaka Ilalang, 2015), Bukit Kalam (DKL, 2015) dan Penitis Jiwa (Pena Ananda Indie Publishing, Tulungagung). Novel perdananya berjudul Mahar Cinta Berair Mata (Pustaka Ilalang, 2017). Selain menulis, ia juga sebagai guru di SMA Raudlatul Muta’allimin Babat dan SMA Mambaul Ulum Pucuk Lamongan Jawa Timur. Saat ini berdomisili di Wanar, Pucuk, Lamongan, Jawa Timur. Nomor HP/Wa 085732613412, Facebook: ilazen@yahoo.co.id/ Ahmad Zaini

Tags

Redaksi Jaazaidun.com

Tim Redaksi jaazaidun.com

Related Articles

Check Also

Close
Close