CerpenSeni & Buku

BURUNG CICEMPALA

Cerpen: Salman Yoga S

Jaazaidun.com — Sekali kepakan ia telah hinggap di dahan pohon kopi muda itu. Angin menyambutnya tak ramah, dahan bergoyang kesana kemari memaksa sayap burung kecil itu untuk terus mengembang mempertahankan keseimbangan diri bertahan di atas ranting. Kaki dan cakarnya mengokohkan cengkeraman, matanya  awas mengamati sekeliling. Sesekali mengeluarkan suara, berkicau lembut seakan memanggil-manggil temannya yang hinggap di dahan lainnya.

Cicempala, burung kecil berbulu halus dan indah dengan beberapa jenis warna. Kepalanya putih, kedua sayap berwarna kuning, seluruh bulu badannya berwarna biru ditambah warna hijau tua pada paruhnya yang mungil. Kaki berwarna merah dengan kuku berwarna kuning dan sisik kecoklat-coklatan. Perpaduan warna yang sempurna, membuat siapa saja terkesima. Kekayaan warna yang ia miliki mengalahkan pelangi dan nuansa senja di sbelah barat Danau Laut Tawar.

Suaranya lembut, kicauannya bertingkah lima dengan tangga nada yang berbeda-beda. Alunan syair seni Didong tak menyamainya ketika tengah riuhnya berkicau. Daya tarik burung Cicempala kecil ini disempurnakan lagi dengan kepakan sayapnya yang gemulai saat terbang. Meliuk dan menukik kepucuk-pucuk pinus muda yang hijau memagari tebing. Seperti gemulainya selendang putri bensu yang turun dari langit ditiup angin. Mengepak dan melambai mengikuti arah hembusan angin yang syahdu.

Makanan utamanya adalah bebijian pohonan yang mengandung air. Buah Nanar yang berwarna kuning adalah kesukaannya. Pohon Nanar banyak tumbuh dipelataran kebun kopi penduduk kampung Genuren. Tumbuhan satu ini memang telah menjadi tumbuhan utama yang sengaja ditanam sebagai pagar kebun. Beberapa penduduk Genuren sengaja menanamnya di halaman rumah, sebagai tanaman hias. Namun ada alasan lain yang lebih kuat ketika semua penduduk Genuren menanam pohon Nanar di depan rumahnya mereka.

Alasan yang sebenarnya sangat sederhana. Yaitu agar setiap pagi hari, siang serta senja hari burung-burung Cicempala datang memakan buahnya. Dengan demikian kicaunnya juga akan terdengar membangunkan tidur pulas manusia. Kicauannya saling bersahut-sahutan antara satu burung Cicempala dengan burung Cicempala lainnya, sebagai pengganti ucapan terimakasih kepada pemilik rumah yang telah menanam dan merawat pohon makanan pokoknya itu.

Tetapi sudah beberapa bulan belakangan ini kicauan burung Cicempala tidak pernah terdengar lagi di halaman rumah Luni. Padahal pohon itu kini sedang berbuah sangat lebatnya. Sebagian biji anar yang memerah dan sudah kelewat matang terjatuh ke tanah sia-sia. Setiap pagi, siang dan sore hari Luni memandangi pohon Nanar yang berdaun kehijau-hijauan itu dengan penuh harap, burung pemilik warna indah itu dapat ia lihat hinggap di salah satu dahannya.

Seperti dua minggu terakhir ini, Luni harus kecewa, karena burung mungil bersuara merdu itu tidak tampak sama sekali, meskipun seekor. Pada satu senja, dengan lesu Luni mendekati pohon Nanar itu, membersihkan beberapa daun dan ranting yang sudah tua. Menyapu bagian bawahnya yang dipenuhi dengan guguran daun. Hatinya bertanya-tanya, kemana hengkangnya burung-burung kecil itu? Luni rindukan suara dan biasan warnanya berkelebat di antara rerantingan. Pegangan sapu lidi di tangannya melemah. Rambut panjangnya dibiarkan melambai menebarkan aroma bunga Renggali.

Sejak burung kecil itu tidak pernah muncul di kampung Genuren, orang-orang sekampung merasakan seperti ada yang hilang. Sebahagian yang lain merasa sangat sepi dan tidak tenang. Ada sejumlah kabar yang tersebar dari mulut kemulut dan berkembang cepat diantara marasyarakat. Berita itu menyatakan bahwa burung Cicempala sudah habis mati karena ditembak oleh pemburu, burung-burung kecil itu kini telah berpindah habitatnya ke hutan gunung Pereben, yang berjarak ratusan kilo meter dari kampung. penyebabnya karena telah banyak ketidak beresan di kampung Genuren.

Burung Cicempala
Ilustrasi Foto (Jaazaidun/vecteezy)

Burung Cicempala memang dipercaya sangat berkaitan erat dengan perilaku baik dan perilaku buruk lingkungan yang ia tempati. Jika lingkungannya baik dan hidup damai maka ia juga akan betah tinggal serta menyumbangkan suara kicauannya. Tetapi apabila yang terjadi justru sebaliknya maka burung itu akan hengkang. Nuansa dan aroma kebaikan atau keburukan konon dapat dirasa dan disaksikan oleh burung Cicempala, seperti layaknya manusia.

Dari sekian kemungkinan yang membuat burung Cicempala tidak pernah datang lagi ke kampung Genuren, yang dapat diterima akal adalah merajalelanya sejumlah pemburu burung bersenapan angin. Konon pula daging burung Cicempala sangat lezat, paruh dan bulu-bulunya sangat berharga bila dijual. Hal tersebutlah yang membuat orang-orang mengalihkan mata pencahariannya dari bertani menjadi pemburu burung.

Tetapi benarkah hal tersebut yang membuat burung Cicempala tidak pernah menampakkan diri lagi? Betulkah Luni menderita penyakit yang tidak diketahui itu dikarenakan tidak lagi mendengar burung Cicempala berkicau di halaman rumahnya? Pertanyaan-pertanyaan itu sungguh telah membuat Ali Gegur ayah Luni kebingungan. Ali Gegur semakin panik ketika keanehan itu kian menjadi-jadi. Pernah Luni berkicau sebagaimana layaknya seekor burung Cicempala, sementara ia sendiri dalam keadaan tertidur. Hal ini terjadi berulang-ulang. Bahkan setiap kali Luni mengeluh sakit di bagian tenggorokannya setiap kali itu pula ia berkicau.

Menurut Sukri Kulem, dukun yang dipercaya masyarakat sebagai dukun ampuh di kampung Genuren mengatakan bahwa; seekor burung yang menjadi pimpinan seluruh burung Cicempala mempunyai ikatan bathin dengan Luni, dan burung itu yang disarankan untuk menjadi penawar bagi sakit Luni.

*          *          *

Istri Ali Gegur pada suatu senja secara tidak sengaja pernah melihat anak gadisnya Luni berbicara sendiri di bawah pohon Nanar, ketika ia berusaha memetik salah satu tangkai bunganya yang tengah mekar. Tidak jelas apa yang dikatakan Luni, tetapi seakan ia sedang ngobrol dengan seseorang dari balik pohon Nanar yang rindang itu. Ketika istri Ali Gegur mencoba mendekat, seekor burung Cicempala terbang dari dahan.

“kamu tadi berbicara dengan siapa Luni?” tanya ibunya dengan penuh keheranan. Rasa ingin tau perempuan separuh baya itu seperti air dari keran yang tersumbat dan kemudian memuncrat begitu saja.

“ah tidak dengan siapa-siapa bu!“ jawab Luni, sambil mengelak dengan terus berpura-pura bernyanyi. Batin Luni mengatakan jangan sampai ada orang yang mengetahui dengan siapa ia berbicara, termasuk ibunya sendiri.

Dari beberapa hari pertemuan dan pembicaraan dengan burung Cicempala itu, Luni baru mengetahui bahwa sebenarnya burung Cicempala yang selama ini berkicau untuknya adalah jelmaan dari pohon dan dedaunan hutan sekitar danau Lut Tawar, tempat dimana Luni dan kampung Genuren berada.

Pengakuan burung itu ia adalah utusan dari sekian ribu jenis dan spesies tetumbuhan serta jutaan hektar hutan yang telah gundul ditebangi orang. Wakil dari sebuah wilayah dan lingkungan kehidupan yang terancam masa depan dan keasriannya.

Burung jelmaan itu berpesan dan memberi ultimatumnya kepada siapa saja melalui Luni. Mendengar ancaman dari burung mungil yang biasanya lemah lembut itu Luni langsung lunglai, pucat dan ketakutan. Seketika ia tersungkur di tanah dengan lemahnya, Ali Gegur yang muncul langsung mengangkat putri tunggalnya itu ke dalam rumah. Perasaannya semakin tidak tenang. Tidak lama kemudian kampung Genuren menjadi heboh, orang-orang berduyun-duyun menjenguk.

Ketika orang sekampung sedang riuhnya mengerumuni rumah Ali Gegur, dari arah tenggara tiba-tiba muncul ratusan burung Cicempala di ikuti oleh hembusan angin kencang dan hujan deras. Orang-orang panik tidak karuan, penuh keheranan. Tetapi sesaat kemudian burung itu menghilang dengan cepatnya di udara, angin dan hujanpun reda seketika. Belum lagi terjawab segala kepenasaran penduduk, Luni tiba-tiba bangkit dari pembaringannya. Suaranya berubah menjadi suara seorang lelaki dewasa, dan berkata kepada semua orang yang hadir tentang bencana yang akan menimpa kampung.

Dua tahun setelah kejadian itu orang-orang masih saja melakukan penembakan burung, penebangan hutan, pembakaran semak-semak serta tindakan lainnya yang merusak alam. Ali Gegur berserta isterinya mengambil keputusan untuk segera pindah dari kampung Genuren. Mereka tidak sanggup lagi memberi penjelasan kepada penduduk tentang bahaya perbuatan mereka. Semakin sering Ali Gegur dan Luni mengingatkan dan mencegah kebiasaan buruk penduduk, ayah dan anak itu semakin dimusuhi oleh banyak orang.

Ali Gegur dan keluarga akhirnya pergi meninggalkan kampung Genuren. Pindah ke kampung lainnya yang dapat menerima mereka dengan baik. Dimana masyarakat dan penduduknya selalu menjaga kelestarian dan keseimbangan ekosistem alamnya. Namanya kampung Beruksah. Kampung yang sebagian wilayahnya adalah lahan perkebunan dan sawah, sebagian lagi hamparan hutan hijau, dan sebagian lainnya adalah rentangan sungai besar dan panjang.

Dengan kondisi alam seperti ini Ali Gegur dan isterinya bebas berusaha menghidupi keluarganya. Luni-pun kini lebih sehat dan ceria dari sebelumnya. Karena ia dapat kembali menikmati kehidupan alam beserta makhluk-makhluk kecil yang ada di sana.

Suatu siang dipersimpangan jalan saat Luni kembali dari pingir sungai, dari atas pohon, tiba-tiba ia mendengar suara Cicempala berkicau riang. Luni kaget luar biasa, ia juga terlihat gembira karena burung yang dikiranya telah punah itu kini muncul kembali. Pada senja berikutnya, burung Cicempala itu datang bertengker di ranting bunga kantin halaman rumah, sambil melompat kesana kemari burung itu berkicau seakan ingin memberitakan sesuatu.

Tepat tengah hari suaranya menghilang. Rasa penasaran Luni berusaha mencari kemana gerangan perginya burung itu. Ali Gegur yang baru saja tiba dari ladang selanjutnya ikut mencari. Tanpa disangka, burung itu muncul di hadapan mereka dengan paruhnya yang kecil. Dengan kicauan lembut, burung itu memberitakan bahwa kampung Genuren yang mereka tinggalkan kini telah menjadi danau. Seluruh kehidupan kini telah menjadi genangan air. Penduduk kampung Beruksah tersentak. Dalam waktu singkat berita itu menyebar. Tak lama kemudian orang-orang dan wartawan seperti berlomba menuju kampung Genuren, menanyai beberapa orang yang selamat serta memotret puing-puing rumah yang tersisa.

*                   *             *

Didong            =  adalah salah satu kesenian tradisonal masyarakat Gayo

Putri Bensu     =  adalah cerita legenda masyarakat Gayo tentang seorang putri

yang menikah dengan seorang pria yang bernama Malem

Dewa

Nanar              = Nama Pohon

Renggali          =  adalah nama bunga khas yang menjadi bagian dari identitas

dan ikon masyarakat Gayo

 

Salman Yoga S. Petani kopi di tanah Gayo dan promovéndus UIN Sumatera Utara-Medan. Karyanya terangkum lebih dari 200 buku, bunga rampai, ensiklopedi dan jurnal terbitan dalam dan luar negeri. Sebahagian telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Rusia, Arab, Jerman serta 40 bahasa nusantara. Aktif dibeberapa organisasi sosial, profesi, seni dan gerakan kebudayaan, mengajar di UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Tinggal dan menetap di Kampung Asir-Asir Atas Takengon Aceh Tengah.

Redaksi Jaazaidun.com

Tim Redaksi jaazaidun.com

Related Articles

Check Also

Close
Close