FadilahJejak TokohPasemonPesantren

Kilau Puisi dan Politik Gus Mus untuk Indonesia

Penulis: Muhammad Wahidi

Jaazaidun.com– K. H. Mustofa Bisri (1944) yang akrab dipanggil Gus Mus adalah sosok ulama’ sederhana. Warga Nahdiyin sudah tak asing dengan nama ini, sebab ia adalah salah satu sosok pewarna dalam perjalanan Islam Indonesia (NU) saat ini. Selain Gus Dur, ia juga menjadi magnet tersendiri dikalangan umat Islam dengan keilmuan yang dimiliki. Ia adalah Kiai, Penyair, Novelis, Pelukis, Budayawan dan Cendekiawan muslim.

Ia antimenstrem. Melawan arus besar yang biasa dibangun gerakan kiai dalam menyampaikan visi keislaman lewat pengajian di surau atau pondok. Walau sisi itu tak dihilangkan Gus Mus, namun ia sedikit berbeda dalam menyelami gelombang besar yang bernama Indonesia. Cara-caranya memukau dan mendalam dalam menyampaikan dakwah, kritik, dan gagasan-gagasan kebangsaan.

Puisi mungkin salah satu contoh. Dimana Gus Mus menempatkan sajak sebagai bagian integral untuk mengingatkan umat, seperti Tadarus Antologi Puisi (1990), Pahlawan dan Tikus (1993). Sutardji Calzoum Bachri menilai, gaya pengucapan puisi Gus Mus tidak berbunga-bunga, pun tidak berupaya bercantik-cantik dalam gaya pengucapan. Tapi lewat kewajaran dan kesederhanaan berucap: berbahasa. Pengucapan yang tumbuh dari ketidakinginan untuk mengada-ada. Bahasanya langsung, gamblang, tapi tidak menjadikan puisinya tawar atau klise. Sebagai penyair, ia bukan penjaga taman kata-kata. “Ia penjaga dan pendamba kearifan” kata Sutardji.

Bacaan puisi Gus Mus pun terlihat rendah dan tak berteriak, atau meninggikan suara agar kata-katanya terdengar lantang. Namun, dengan nada itu penikamat puisi dipertemukan dengan kehalusan hati, ketenangan jiwa, dan keheningan yang tak terkira dan maknanya pun tersampaikan dengan nyaris sempurna. Masuk ke dalam relung hati para pendengar. Orang kemudian sadar, bahkan menangis, dan merenungi setiap sajak-sajak yang disampaikan atau pun yang ditulis Gus Mus. Dari hal kecil ini, bisa diukur betapa halusnya Gus Mus. Betapa lembutnya Gus Mus.

Di luar kegiatan rutin sebagai ulama, dia juga seorang budayawan, pelukis dan penulis. Dia telah menulis belasan buku fiksi dan nonfiksi. Melalui karya budayanyalah, Gus Mus sering kali menunjukkan sikap kritisnya terhadap budaya yang berkembang dalam masyarakat. Tahun 2003, misalnya, ketika goyang ngebor pedangdut Inul Daratista menimbulkan pro dan kontra dalam masyarakat. Gus Mus justeru memamerkan lukisannya yang berjudul “Berdzikir Bersama Inul”. Begitulah cara Gus Mus mendorong perbaikan budaya yang berkembang saat itu. Apa maksudnya? Tentu di sini Gus Mus lebih paham.

Kesederhanaannya telah memberi warna baru pada peta perjalanan kehidupan sosial dan politik para ulama. Ia didorong-dorong oleh Gus Dur dan kawan-kawan dari kelompok NU, untuk mau mencalonkan diri sebagai calon ketua umum PBNU pada Muktamar NU ke-31 tahun 2004, di Boyolali, Jawa Tengah. Kawan karib Gus Dur selama belajar di Kairo, Mesir, ini dianggap salah satu ulama yang berpotensi menggantikan laju kepemimpinan ketua umum lama, KH. Hasyim Muzadi. Namun Gus Mus justeru bersikukuh menolak.

Ternyata, langkah seperti itu bukan kali pertama dilakukannya. Begitulah Gus Mus, jika tidak merasa cocok berada di suatu lembaga, dia dengan elegan menarik diri. Sebagai misal, kendati pernah tercatat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Tengah tahun 1987-1992. Demikian pula pernah sebagai anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), mantan Rois Syuriah PBNU periode 1994-1999 dan 1999-2004 ini tidak pernah mau dicalonkan untuk menjabat kembali di kedua lembaga tersebut.

Demikian juga dalam Pemilu Legislatif 2004, meski namanya sudah ditetapkan sebagai calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari Jawa Tengah, ia lalu memilih mengundurkan diri sebelum pemilihan digelar. Ia merasa, dengan menjadi wakil rakyat, ternyata apa yang diberikannya tidak sebanding dengan yang diberikan oleh rakyat. “Selama saya menjadi anggota DPRD, sering terjadi pertikaian di dalam batin saya, karena sebagai wakil rakyat, yang menerima lebih banyak dibandingkan dengan apa yang bisa saya berikan kepada rakyat Jawa Tengah” kenang Gus Mus terhadap pengalaman dan pertentangan batin yang dia alami selama menjadi politisi.

Dari ruang puisi hingga kegiatan organisasi di atas, secara spesifik penulis ingin memotret bagaimana sosok Gus Mus yang tawadhu’. Sosok yang rendah hati, jujur berkata, ikhlas beramal dan yang paling penting beliau tak gila kekuasaan meski dikaruniai segudang kemampuan. Ia lebih memilih menjadi orang biasa yang bebas dari pertikaian demi sebuah jabatan padahal mereka satu darah, darah merah-putih. Ia akan mengkritik jika ada orang yang keluar dari batas kewajaran (salah).

Itulah cara Gus Mus dengan tawadhu’-nya dalam upaya mengilaukan pesona islam dan ke-indonesia-an. Potret lain yang bisa dijadikan pegangan manusia, terutama bagi politisi adalah “cobalah memberi lebih banyak kepada rakyat”. Jika tidak bisa, paling tidak berlaku adil-lah dan berusaha mensejahterakannya.

Penulis: Muhammad Wahidi

Tags

Redaksi Jaazaidun.com

Tim Redaksi jaazaidun.com

Related Articles

Close