Jejak Tokoh

Kiprah Politik Kh. Abdul Wahab Chasbullah

Oleh: Mohamad Fathollah

Kiai Haji Abdul Wahab Chasbullah, seperti halnya mbah Hasyim, adalah Kiai kelahiran Jombang, Jawa Timur. Putra pasangan Kiai Hasbullah dan Nyai Latifah ini lahir pada tanggal 31 Maret 1888 dan meninggal tanggal 29 Desember 1971. Kiai khas yang memiliki kemampuan akademik keagamaan yang mumpuni ini adalah salah satu pendiri NU. Bersama KH. Hasyim Asy’ari, mbah Wahab (sapaan akrab Kiai Wahab) tidak hanya memiliki kemampuan pemahaman agama Islam yang baik, ia juga aktifis dari kalangan Kiai yang meletakkan dasar-dasar gerakan ke-Islaman moderat sekaligus politisi ulung di masanya.

Mbah Wahab memiliki ketertarikan kuat terhadap ilmu pengetahuan agama. Sejak kecil pendidikan agama sudah ditempa di pondok pesantren asuhan abahnya sendiri. Kepimpinan mbah Wahab dalam pergerakan sudah diketahui sejak kanak-kanak. Di lingkungannya, mbah Wahab dikenal sebagai pemimpin dalam permainnya. Mbah Wahab disebut-sebut memiliki garis keturunan dari Raja Brawijaya IV. Jika ditarik pada Raja Brawijaya IV, mbah Wahab bersambung garis keturunan pada mbah Hasyim.

Baca Juga: Tokoh – KH. Hasyim Asy’ari

Selama hidupnya mbah Wahab diketahui telah menikah sebanyak lima kali. Pernikahan tersebut dilakukan karena istri-istri sebelumnya telah meninggal dunia. Istri pertama mbah Wahab bernama Maimunah binti Kiai Musa. Kira-kira sejak tahun 1914 mbah Wahab tinggal bersama mertuanya di Kampong Kertopaten, Surabaya. Dari pernikahannya dengan Maimunah, mbah Wahab dikaruniai putra bernama Wahab Wahib. Sewaktu menjalankan ibadah haji bersama tahun 1921, Maimunah meninggal dunia.

Setelah Maimunah meninggal, mbah Wahab kemudian menikah lagi dengan Alawiyah binti Kiai Alwi. Setelah mendapatkan putra, istri keduanya ini kemudian meninggal dunia. Setelah ditinggal Alawiyah, mbah Wahab kemudian menikah lagi untuk ketiga kalinya. Tidak berlangsung lama, mbah Wahab kemudian menikah lagi dengan Asnah binti Kiai Sa’id. Setelah Asnah meninggal, mbah Wahab kemudian menikah lagi untuk yang kelima kali dengan Fatimah binti Haji Burhan. Setelah Fatimah meninggal, mbah Wahab menikah lagi dengan Ashikah binti Kiai Abdul Madjid. Selepas dari Ashikah yang meninggal, mbah Wahab menikah lagi untuk terakhir kali dengan kakak perempuan Ashikhah yang bernama Sa’diyah. Dari beberapa istrinya, mbah Wahab dikaruniai banyak keturunan yang kelak menjadi penerus perjuangannya.

Mbah Wahab meninggal dunia di kediamannya di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang. Di masa tuanya, mbah Wahab didera penyakit mata yang menyebabkan kesehatannya semakin menurun. Pengabdian terakhir mbah Wahab di NU sebagai Rais Am PBNU. Kepergiannya empat hari setelah muktamar menyisakan sedih mendalam bagi kalangan nahdliyin. Namun demikian perjuangannya dalam merawat NU dan NKRI hingga kini semakin ditumbuhkembangkan oleh generasi penerus.  

Politik Silaturrahim

Walaupun tidak seperti mbah Hasyim yang memiliki karya tulis berupa kitab yang menjadi pedoman langkah dan gerakan Kiai NU, namun mbah Wahab adalah inspirator lahirnya gerakan-gerakan berbasis keilmuan. Sebut saja misalnya harian umum Soeara Nahdlatul Oelama yang menjadi corong dakwah NU ketika itu tidak lepas dari tangan kreatif mbah Wahab. Di dalam perjuangan dakwah Islam, mbah Wahab adalah aktifis tulen. Pada masa penjajahan Jepang, mbah Wahab pernah menjadi Panglima Laskah Mujahidin atau dikenal dengan laskah Hisbullah. Ia bahu-membahu bersama mbah Hasyim dan Kiai lainnya membidani NU menjaga umat dari gerakan wahabi dan merawat NKRI.

Mbah Wahab adalah pelopor forum-forum diskusi antar ulama, tidak hanya di lingkungan NU, tapi juga lintar organisasi Islam lainnya. Kegigihannya dalam bidang keilmuan tak lepas dari serentetan pendidikan yang pernah dijalaninya. Semasa muda, mbah Wahab belajar agama langsung dari ayahnya KH. Hasbullah Said. Selepas pendidikan yang ditempa di lingkungan keluarga ia merantau ke pelbagai pesantren di Jawa dan bahkan ke Mekkah. Wahab muda pernah belajar di pesantren Langitan Tuban, pesantren Mojosari Nganjuk, pesantren Tawangsari Sepanjang, dan berguru juga pada Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan dan ke mbah Hasyim Asy’ari. Ketika merantau ke Mekkah, mbah Wahab berguru kepada Syeikh Mahfudz At-Tirmasi dan Syaikh Al-Yamani.

Warga NU tentu tidak asing dengan KH. Abdul Wahab Hasbullah atau karib dipanggil mbah Wahab.  Beliau adalah sosok penting berkibarnya bendera NU (Nahdlatul Ulama). Tidak sedikit kalangan anak muda NU mengidolakan sosok bersahaja, tegas, dan disiplin ini. Berdirinya Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) juga tidak lepas dari tangan dingin beliau.  

Selain tokoh-tokoh ulama lainnya, peran mbah Wahab tak dapat disangsikan dalam pendirian NU dan merawat NKRI. Di lingkaran NU, sosok Kiai yang dikenal sebutan “santri kelana” tidak hanya sebagai pendiri NU. Beliau juga terkenal sebagai pencipta lagu mars “ahlal wathan” dan pendiri organisasi kepemudaan Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air). Selanjutnya organisasi kepemudaan tersebut menjadi cikal bakal berdirinya GP Ansor. Bahkan nama Ansor yang melekat pada gerakan kalangan muda NU berasal dari ide cemerlang mbah Wahab.

Mengapa Ansor? Alasannya sederhana; nama tersebut adalah nama kehormatan yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW kepada penduduk Madinah. Harapannya anak muda NU dan penerus perjuangan para Kiai dapat berperilaku layaknya kaum Ansor di Madinah yang telah berjasa menolong, membela, dan memperjuangkan agama Allah SWT dan nabinya yang mulia Rasulullah SAW.

Saat mempertahankan kemerdekaan beliau memimpin pasukan Laskar Hizbullah melawan tentara sekutu di Surabaya. Kiprahnya di dunia internasional juga dapat dirasakan, khususnya para jemaah haji Indonesia. Beliau bersama tokoh Kiai sepuh mendirikan Komite Hijaz untuk bernegosiasi kepada Raja Ibu Saud yang beraliran Wahabi. Komite Hijaz meminta kerajaan Arab Saudi untuk menerapkan kebebasan bermadzhab, tidak membongkar situs-situs bersejarah termasuk makan nabi Muhammad SAW, menentukan tarif atau ketentuan pembiayaan para jamaah haji, membuat undang-undang atas semua hukum yang berlaku di tanah Hijaz.

Kiprah politik mbah Wahab semakin berkibar sejak di Mekkah. Bersama Kiai Abbas dari Jember, Raden Asnawi dari Kudus, dan Dahlan dari Kertosono, mbah Wahab ikut mendirikan cabang Sarekat Islam Mekkah. Dari sinilah mbah Wahab semakin terlihat sekembalinya ke Jawa Timur tahun 1914 atau 1915. Di Jawa Timur, ia memulai karir politiknya pertama kali di Surabaya. Jaringan luas yang ia bangun sejak di Mekkah hingga di tanah air terus ia rawat. Dari Surabaya mbah Wahab mulai berjejaring dengan tokoh modernis, seperti Mas Mansoer, Tjokroaminoto dari SI, Wahidin Soediro Hoesodo dari Budi Utomo, dan dokter Soetomo dari Kelompok Kajian Surabaya (Jajat Burhanudin, dalam Ulama dan Kekuasaan: Pergumulan Elit Muslim dalam Sejarah Indonesia, 2012:328-230).

Perjuangan di bidang politik yang dilakukan mbah Wahab di masa orde lama tidak lepas dari keteguhan hati untuk merawat dan membumikan nilai-nilai ke-Islaman dan keummatan. Kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan diberengi dengan kecintaan terhadap sesama umat manusia dapat dijadikan pedoman berpolitik hingga era saat ini. Kebebasan berpikir yang didengungkan mbah Wahab dapat ditelisi dari langkahnya membentuk kelompok diskusi Tashwirul Afkar (kelompok Pergolakan Pemikiran) di Surabaya tahun 1918. Forum yang menghimpun ulama pesantren tersebut terbukti menjadi wadah progresif di masanya (Jajat Burhanudin, 2012).

Mbah Wahab yang memiliki perawakan kecil tak membuat auranya surut. Justeru sebaliknya auranya semakin terlihat dalam proses pendirian NKRI. Di dalam ranah politik, mbah Wahab tidak hanya dikenal di lingkungan NU. Tetapi juga di pemerintahan. Perannya sebagai pengatur strategi NU membuat dirinya cukup piawai bernegosiasi dengan pihak siapa pun. Pasca kemerdekaan, mbah Wahab ikut ambil bagian mengatur politik NU hingga menjadi partai dan hingga NU keluar lagi dari kepesertaan pemilu. Kepiawaian strategi gerakan mbah Wahab terlihat dalam pembentukan MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia), GAPPI (Gabungan Partai Politik Indonesia), dan lainnnya. Pergumulan mbah Wahab juga terlihat dari keakrabannya dengan tokoh nasionalis seperti Mas Mansur, Dr. Sukiman, Abikusno Cokrosuyoso, Mr. Sartono, Sukarjo Wiryopranoto, Amir Syamsuddin dan lainnya.

Pelajaran dari Mbah Wahab

Apa yang dapat dipelajari dari kiprah politik mbah Wahab? Yang paling sederhana ialah politik silaturrahim. Politik silaturrahim telah dilakoni mbah Wahab sejak remaja. Kiai yang hidup di tiga zaman ini mempunyai andil besar tidak hanya sejak perjuangan kemerdekaan, tetapi dalam rangka merawat kemerdekaan. Dalam bidang politik praktis, mbah Wahab pernah dipercaya sebagai anggota parlemen mewakili NU dari tahun 1945 hingga 1949.

Silaturrahim yang kuat dilakoni mbah Wahab terbukti ampuh menjadi semacam mediasi pelbagai kalangan di era orde lama. KH. Masdar Farid Mas’udi pernah menceritakan perihal kiprah politik silaturrahim mbah Wahab. Pada tahun 1948 Indonesia mengalami sejumlah kemelut, salah satunya ancaman disintegrasi. Para elit politik saling menghujat. Pemberontakan DI/TII dan PKI juga gencar-gencarnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, Soekarno merasa kebingungan. Di pertengahan bulan Ramadhan dipanggillah mbah Wahab ke Istana Negara untuk dimintai pendapat dan sarannya mengatasi situasi tersebut. Melihat dinamikia perpolitikan bangsa yang mengarah pada disintegrasi maka mbah Wahab mengusulkan kepada bung Karno untuk menyelenggarakan silaturrahim pasca hari raya Idul Fitri. Akan tetapi karena jargon silaturrahim sudah biasa digunakan dimana-mana, bung Karno mita usul untuk dirubah redaksi bahasanya.

“Silaturrahmi kan biasa, saya ingin istilah yang lain,” pinta bung Karno.

“Itu gampang. Begini, para elit politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu kan dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturrahmi nanti kita pakai istilah ‘halal bi halal'”, jelas mbah Wahab (nu.or.id).

Istilah Halal bi Halal yang dicetuskan mbah Wahab, menurut Masdar, mengandung makna pertama (thalabu halâl bi tharîqin halâl) atau mencari penyelesaian masalah dan mencari keharmonisan hubungan dengan cara mengampuni kesalahan. Atau dengan analisis kedua (halâl “yujza’u” bi halâl) adalah pembebasan kesalahan dibalas pula dengan pembebasan kesalahan dengan cara saling memaafkan (nu.or.id)

Dari saran inilah kemudian Halal bi Halal menjadi jargon silaturrahim para elit politik hingga masyarakat biasa yang diselenggarakan setelah merayakan Idul Fitri. Ide halal bi halal dari mbah Wahab ketika itu terbukti ampuh untuk menyusun rasa kekeluargaan, kekuatan, dan persatuan sebagai bangsa. Politik silaturrahim nyata memberikan dampak luar biasa ketika terjadi ketegangan politik antar faksi. Politik silaturrahim yang digaungkan mbah Wahab menjadi jalan terbentuknya kesadaran kebangsaan dan ke-Indonesiaan.

Tags
Close