Pesantren

Ini Hijrah Millenial Menurut Kornas Densus 26

Yogyakarta – Umat muslim sudah lebih setengah bulan menjalani puasa. Memasuki sepersepuluh bulan Ramadhan kita disarankan untuk lebih menempa dan mendekatkan diri pada Sang Ilahi, Allah SWT. Momentum Ramadhan yang tinggal sepekan lagi dapat dijadikan ladang kita berhijrah dari sifat-sifat buruk, ke sifat-sifat yang baik. Berhijrah dari berburuk sangka, ke prasangka positif.

Sebelum berhijrah mungkin ada baiknya kita menelaah, apa itu hijrah dan bagaimana implementasinya? Secara bahasa, hijrah berarti berpindah sementara waktu dari suatu tempat ke tempat lain yang lebih baik. Alasan berhijrah biasanya ialah untuk menciptakan keselamatan, kebaikan, dan sebagainya. Contoh yang begini ialah hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah pada hari Jumat tanggal 13 Rabi’ul Awwal atau 24 September 622 Masehi.

Lantas bagaimana hijrah bagi kaum millenial seperti kita? Kiai Umaruddin Masdar, Koordinator Nasional Densus 26 (Pendidikan Khusus Da’i Ahlussunnah wal Jamaah 1926) berpendapat bahwa hijrah memiliki esensi makna yang berarti berpindah, baik dari satu tempat ke tempat lain maupun dari keburukan menuju kebaikan.

“Ada yg bertanya soal esensi HIJRAH. Jika dulu engkau suka menyesatkan orang, kini hadir membawa manfaat & CINTA,” kicau Kiai Umar di akun resmi Twitternya @UmarMasdar (06/06).

Di tengah-tengah isu intoleransi yang terjadi, Koordinator Nasional Densus 26 ini mengajak masyarakat khususnya kaum muslimin untuk berfikir secara jernih. Misalnya dalam memaknai kata hijrah itu sendiri. Dalam konteks masyarakat majemuk seperti Indonesia, mengubah budaya intoleransi menjadi toleransi merupakan makna hijrah yang sesungguhnya.

 

Tags

Redaksi Jaazaidun.com

Tim Redaksi jaazaidun.com

Related Articles

Close