DaerahKabar

Para Pendekar Setia Hati Pun Harus Melek Politik

Jaazaidun.com–Pamekasan – Kini politik lumrah diperbincangkan di pelbagai tempat. Mulai dari warung kelontongan hingga cafe elit. Atau dari meja makan keluarga hingga meja restoran, seakan terma politik sudah tak asing dibahas. Namun dewasa ini arah perbincangan politik praktis mengarah pada politik uang.

Keadaan demikian menjadi kekhawatiran sejumlah anak muda yang terhimpun dalam PSHT (Persaudaraan Setia Hati) Kecamatan Pakong, Kabupaten Pamekasan. Untuk memenimalisir politik uang yang lagi marak, PSHT Pakong bekerjasama dengan P2R (Pendidikan Politik untuk Rakyat) Madura adakan diskusi kepemudaan bertajuk “Pemuda Melek Politik” di Desa Bicoro, Kecamatan Pakong, Kabupaten Pamekasan pada Selasa (10/18).

Dokumentasi jaazaidun.com

Seperti disampaikan Muzanni, M.Fil.I, Koordinantor P2R Madura, bahwa saatnya anak muda melek politik. Bagaimana anak muda zaman kini ikut andil memberikan dampak positif pada masyarakat dengan melakukan kerja pendewasaan politik pada warga. PSHT sebagai simpul anak muda kreatif, energik, dan terlatih dapat menjadi garda depan membawa perubahan tersebut.

“Saya sangat bergembira berkumpul dengan taretan pendekar PSHT. Apalagi merefleksikan persoalan politik. PSHT kumpulannya anak muda terlatih. Hal ini dapat menjadi energi positif untuk memberikan kesadaran politik bagi warga,” ungkap Muzanni.

Muzanni berkeyakinan kesadaran politik nir-politik uang dapat disebarkan ke sejumlah elemen masyarakat. Tentunya dengan saling merekatkan barisan dan saling bergandeng tangan menguatkan simpul kekeluargaan sebagaimana ditampilkan PSHT selama ini.

Hal yang sama disampaikan Hasanah Indri Astuti, salah seorang atlet PSHT Pakong. Bahwa perbicangan politik hari ini menjurus ke politik uang dan suap sana-sini. PSHT Pakong tidak hanya rutin mengadakan latihan bersama, tapi juga menguatkan kekeluargaan dan persaudaraan dengan saling mengunjungi satu rumah ke rumah yang lain. Cita-cita bersama membumikan nir-politik uang sebagaimana bahan diskusi kali ini.

“Perempuan dapat menjadi penggerak di lingkungan rumah tangga untuk memastikan kesadaran nir-politik uang ini” ujar Astuti. Ia berharap anak muda yang terkumpul di PSHT dapat mengawalinya, terutama bagi kalangan perempuan yang masih awam tentang politik.

Bagi Astuti, salah satu cara yang dapat dilakukan kalangan muda untuk memberikan kesadaran politik ialah melibatkan unsur perempuan. “PHST juga terdapat unsur perempuan. Dari elemen ini pengejawantahan pendidikan politik untuk masyarakat bisa dilakukan” tegasnya.

Sehingga, keinginan Astuti pendidikan politik tidak hanya berakar di kalangan laki-laki, tapi juga pada perempuan sebagai salah satu pilar keluarga. Dan, silaturrahim yang dilakukan PSHT dapat menjadi “senjata” menguatkan kesadaran politik. (ft/rd)

Tags

Redaksi Jaazaidun.com

Tim Redaksi jaazaidun.com

Related Articles

Close