KabarKomunitas

Lesbumi Sumenep Menziarahi Lingkungan dengan Paddhang Bulan

Jaazaidun.com, Sumenep. Balai Desa Pamolokan yang terletak di jalan Raya Halim Perdanakusuma, Sabtu malam 23 Maret 2019 yang biasanya sepi ngeleret malam itu dipenuhi ratusan anak muda, para santri, pegiat budaya, seniman dan aktivis lingkungan. Gema suara sholawat diiringi tabuhan musik tradisional, ganti berganti dengan nyanyian Iwan Fals. Para pengunjung yang hadir sejak awal acara sudah terbentuk suasananya, bahwa forum malam itu sebagai forum menggedor dinding kesadaran.

Lesbumi Sumenep, Tera’ Bulan dan Paddhang Bulan sebuah komunitas musik yang menyediakan ruang bercakap lebih untuk merenungkan isu-isu sosial, lingkungan dan tradisi. Kekal Anom Hamdhani, penggerak komunitas ini, mengangkat tema Ziarah Lingkungan. Hal tersebut didasarkan atas keprihatinan, melihat
masalah lingkungan dan tanah di Madura.

Forum tersebut penting dihadirkan untuk menguatkan kesadaran kritis masyarakat, seiring perkembangan industri yang tidak ramah lingkungan dan banyaknya tanah yang diborong investor dan pemodal besar. Hadir sebagai pemantik; Mahmudi Zain, Sholahuddin Waris, Achmad Musthafa dan Dardiri Zubairi.

Mahmudi Zain, mengatakan jika masalah lingkungan hanya segelintir orang tertarik dan berminat. Ia asing, gharib bagaikan agama Islam pada awal sejarahnya. Dibutuhkan strategi dan kesabaran agar dikenal luas.

“Teologi lingkungan sama dengan rukun agama; iman, Islam dan Ihsan. Perpaduan iman dan Islam baru jadi Muhsin,”terangnya.

Teologi lingkungan mengakar dari teologi pembebasan. Disebabkan oleh rusaknya lingkungan. Meskipun sejatinya, manusia mendamba kalbun Salim, wal Ardhu dhaimah.  Hati yg selamat, bumi damai. Dalam Alquran disebut, lebih banyak ajaran yg mengajak kepada kebaikan, ketimbang keburukan.

“Iman lingkungan tinimbang kafir lingkungan,” ucap Mahmudi Zain.

Berbeda dari Mahmudi, Muhammad Musthofa justru menawarkan  perspektif kritis dalam melihat isu lingkungan. Menurut alumni Utrecht tersebut kolaborasi dari berbagai aparatur sosial dan pengurus publik diperlukan untuk menggalakkan isu-isu lingkungan sehingga sampai ke level kebijakan.

“Kesadaran lingkungan, akan bisa bergerak di level personal. Butuh pengurus publik. Harus dibekali dengan nalar kritis. Mindset sangat penting,”jelas Musthofa.

Masalah lingkungan adalah fakta paling nyata yang dihadapi masyarakat hari ini. Namun tidak jadi bagian dari piranti sosial. Kesadaran lingkungan seolah terputus hanya sebagai diskursus dari pegiat lingkungan, tidak masuk ke kurikulum atau jadi tuntutan di tingkat legislasi. Pendidikan terkesan abai dengan isu macam begini. Sebab disekolah pelajaran tidak banyak berhubungan dengan lingkungan.

Dari kasus tersebut, Musthofa mencontohkan hal kecil yang sudah dilakukannya sejak tahun 2008 bersama beberapa Kiai muda di SMA 3 Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk, yaitu dengan menggerakkan siswa yang kemudian terkenal dengan Pemulung Sampah Gaul.

“Mereka berkreasi dengan daur ulang sampah, dan mengharamkan diri botol air mineral yang menyisakan  sampah masuk kelas,” jelas Musthofa.

Dia menegaskan butuh ruang publik yang lebih luas dan kolaborasi berbagai pihak dalam mengkampanyekan kesadaran lingkungan. Pengurus publik dan media alternatif, dibutuhkan untuk mendorong kesadaran lingkungan sampai di tingkat Legislasi.

Hal senada juga dikatakan Sholahuddin Waris. Dia menjelaskan jika persoalan lingkungan lebih bersumber dari aktivitas politik ekonomi dan ekonomi politik yang berputar-putar. Pembangunan dibuat untuk menggerakkan roda ekonomi. Meskipun faktanya, syahwat kepentingan manusia mengalahkan kebutuhannya sendiri.

“Bukan masyakarat yang hendak disejahterakan dengan pembangunan itu, tapi keluarga, segelintir pemilik modal besar,” tegasnya.

Aktivitas politik kepentingan ini, yang dianggapnya berbahaya karena dapat merusak sistem nilai di masyarakat. Ketika modal kultural yang dimiliki masyarakat rusak, lingkungan sosial juga ikut rusak.

Karakter budaya Madura yang individualistik tercermin lewat bahasanya. Dardiri Zubairi mencontohkan jhak ngalak karebba dhibik. Teritori masyarakat tegalan dengan rumah yang berserak sulit membangun kerjasama dalam hal irigasi sebagaimana terjadi di masyarakat persawahan sebagaimana di Jawa.

Dalam konteks ini, ketika terjadi penjualan tanah sangkol kepada pemodal besar seperti tambak sulit dikontrol secara sosial.

Dardiri mencontohkan, apa yang terjadi di
Andulang Gapura yang lahannya dalam RTRW masuk zona pertanian, tapi 20 hektar sekarang sudah berubah menjadi tambak udang.

“Apakah dampak ekonomi nya benar dirasakan oleh masyarakat, atau ekonomi kapital saja, ini masalahnya”tanya Dardiri. (Red)

Tags

Redaksi Jaazaidun.com

Tim Redaksi jaazaidun.com

Related Articles

Close