KabarNasional

Kekerasan Pada Tokoh Agama Melawan Kemanusiaan

Yogyakarta – Kekerasan dan penganiayaan terhadap tokoh agama kembali mencuat. Kiai, pendeta, dan lain menjadi target mereka. Baru-baru ini di Yogyakarta dikejutkan dengan penyerangan terhadap umat Kristiani di Gereja Gereja Santa Lidwina, Bedog, Trihanggo, Gamping, Sleman, Yogyakarta pada Minggu (11/2/2018). Seorang remaja berinisal S (16) mengamuk dan melukai sejumlah jemaat dan pastor. Hingga kini motif tindakan pelaku didalami. Anehnya yang bersangkutan ditengarai tidak waras.

Tak hanya itu, belakangan viral di media sosial seseorang yang diidentifikasi juga sebagai orang gila melakukan penyerangan ke sejumlah Kiai di beberapa daerah. Nur Faizin, Korwil Madura Densus 26 (Pendidikan Khusus Da’i Ahlussunnah wal Jamaah 1926), mengatakan sprial kekerasan dan penganiayaan yang dialamatkan pada pemuka agama di Indonesia seyogianya dapat menjadi perhatian segenap pihak. Jangan sampai peristiwa penganiayaan pada Kiai dan tokoh agama menjelang reformasi yang pernah menjadi duri negeri ini mengemuka kembali.

“Kami Densus 26 (Pendidikan Khusus Da’i Ahlussunnah wal Jamaah 1926) Koordinator Wilayah Madura sangat mengecam tindakan-tindakan anarkhis, utamanya yang dialamatkan pada pemuka agama. Bangunan NKRI sudah final. Bahwa kemanusiaan yang adil dan beradab patut dijadikan pijakan segenap pihak. Kekerasan dan penganiayaan apapun motifnya secara nyata telah menyalahi kemanusiaan, keadilan, dan keadaban,” ungkap Jen, panggilan akrab Faizin.

Baca Juga : Anak Muda NU dilatih Mengurus Jenazah

Jen menambahkan bahwa penganiayaan yang terjadi di Yogyakarta misalnya, menjadi momentum segenap pihak untuk saling bergandeng tangan. Pemuka agama (ulama, pendeta, bikhu, pastor, dan lainnya) bersama umara (pemimpin legislatif dan eksekutif) harus berjibaku merawat ke-Indonesiaan. Mereka merupakan kunci stabilitas harmoni di tengah-tengah masyarakat. Jangan sampai penganiayaan yang dilakukan oleh oknum-oknum tidak bertanggungjawab memecah belah ke-Indonesiaan kita atau bahkan memanfaatkan situasi agar tercipta kekeruhan politik yang ujungnya permusuhan dan perpecahan.

Tags

Related Articles

Close