Daerah

Menjaga Tradisi Atellasan Bersama KH. Unais Ali Hisyam dan Abdul Gaffar Karim, Ph.D

Sumenep – Di Madura atellas atau atellasan (berlebaran Idul Fitri) biasanya hingga semingu lamanya. Dalam rentang waktu tujuh hari ini banyak orang hilir mudik berkunjung ke sanak saudara, handai taulan, kerabat, dan lainnya. Momentum ini biasanya dijadikan tidak hanya dijadikan wahana untuk saling bermaafan, pun juga sarana mempererat silaturrahim.

Sama seperti orang Madura kebanyakan, Nur Faizin tak lepas dari budaya yang sudah mentradisi turun temurun ini. Setelah silaturrahim bersama keluarga dan kerabat, tiga hari selepas Idul Fitri, Faizin memanfaatnya silatrurahim ke beberapa tokoh diantaranya ke KH. Unais Ali Hisyam di Ambunten, pada Selasa (18/6).

Faizin mengungkapkan banyak hal yang diobrolkan dalam pertemuan tersebut. Sebagaimana tradisi atellasan di Madura materi obrolan bisa ke mana-mana. Banyak topik. Ada yang istimewa dalam kunjungan tersebut. Jen, panggilan akrab Nur Faizin, tidak hanya ditemani rombongan tapi juga guru sekaligus teman diskusi semasa di Yogyakarta; Abdul Gaffar Karim, Ph.D.  “Beliau ini guru saya. Banyak hal dalam teori politik yang beliau ajarkan pada saya. Kami ke Aswaj (PP Aswaj asuhan KH. Unais Ali Hisyam) selain nyopre barokah kiai pun juga ingin menjaga keakraban dalam silaturrahim. Apalagi mas Gaffar ini lama tak bersua dengan KH. Unais,” ungkap Jen.

Dalam obrolan tersebut KH. Unais sempat menyinggung kerekatan bangsa. Ia mengatakan bahwa silatturrahim harus diperkuat oleh segenap bangsa. Ini menjadi kunci keberhasilan dalam membangun sebuah bangsa berdaulat. Selain mendapat pahala, silaturrahim menjadi jembatan perekat hubungan antar sesama manusia. “Saya tidak menutup diri dengan siapapun. Bergaul boleh dengan siapa saja. Asal punya batasan-batasan. Makanya batasan  itu bisa dijembatani dengan silaturrahim. Saya pun begitu. Walaupun banyak orang datang ke sini, saya juga tak menutup diri datang ke banyak orang. Apalagi ini momentum tellasan, perbanyaklah datang ke banyak orang, ke kiai kampung, guru ngaji, tetangga, dan lainnya,” ungkap Unais.

Obrolan KH. Unais tak ditampik Abdul Gaffar Karim. Gaffar yang Kaprodi Ilmu Politik di FISIP UGM Yogyakarta ini sempat menyinggung pribahasa Madura; ka bara’ ka temor (ke barat ke timur). Pribahasa ini biasanya menunjukkan seseorang ketika nampak wara-wiri tidak jelas tujuannya atau bicara yang tidak jelas ujung pangkalnya. Gaffar merasakan itu pada tellasan tahun ini. Ia secara harfiah benar-benar ke timur ke barat mengiris sumenep dari tenggara ke barat laut.

“Pagi saya ke pesantren Anwarul Abrar di Dungkek bersilaturahim dengan Kiai Fawaid dan putra-putranya, siang bertemu dengan beberapa teman di kota, sore saya ke pesantren Aswaja di Ambunten bertemu Kiai Unais. Lalu maghrib hingga malam menikmati rujak di rumah sahabat Fathor Rahman Ambunten. Saya rasa asupan nutrisi hari ini cukup untuk kebutuhan seminggu ke depan,” ungkap Gaffar.

Tags

Redaksi Jaazaidun.com

Tim Redaksi jaazaidun.com

Related Articles

Close