KabarNasional

Ingin tahu Upah Buruh, Inilah Upah Dosen di Sumenep

Jaazaidun.com, Sumenep. J, adalah dosen di sebuah perguruan tinggi swasta di Kabupaten Sumenep. Baginya menjadi pendidik merupakan pilihan yang tepat untuk mengabdi kepada bangsa dan negara.

Profesi dosen bagi J demikian mulia. Sebagai pendidik jasanya sulit dilupakan oleh anak-anak didiknya. Manusia unggul dan cerdas, pemimpin yang baik, karya-karya magnum opus yang mempengaruhi jutaan manusia pasti bersentuhan dengan tangan para dosen.

“Bagi saya guru atau dosen merupakan profesi dan pilihan yang tepat untuk mengabdi dan menyalurkan ilmu kepada anak didik saya,” paparnya ditemui di Kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul Ulum, Tarate Sumenep, Rabu 1/05/2019.

Selain sebagai dosen di kampusnya, J mengaku nyambi sebagai guru SMP dan SMA untuk menopang kebutuhan hidupnya. Jika hanya mengandalkan gaji dosen, kebutuhannya tidak akan terpenuhi sebab gaji yang diterima tidak seberapa.

“Kalau gaji saya lumayan cukup karena saya juga ngajar di SMP dan SMA,” jelasnya.

J mengaku belum ada penghargaan apapun yang diberikan yayasan bagi dosen yang  berprestasi. Dia sadar betul kampusnya kecil dan masih ditahap membangun.

“Masih belum mampu mas, soalnya masih tahap membangun,”
katanya.

Hal yang sama juga dialami oleh SA, dosen sekaligus Ketua di Kampus Tinggi yang berada dibawah naungan yayasan Al Karimiyah Beraji. Menurut dia, gaji dikampusnya tidak seberapa dan jauh dibawah UMK Sumenep

Namun SA meyakini betul menjadi pendidik yang dilihat bukanlah materi dan upah. Baginya pendidik adalah profesi yang sangat mulia. Peran seorang pendidik sangat berpengaruh bagi kehidupan generasi ke depan.

“Menjadi pendidik adalah profesi yang sangat mulia, apalagi cita-cita saya dari kecil memang ingin menjadi rektor”, jelas SA, dihubungi jaazaidun, Rabu 1/05/2019 melalui telepon.

Dia mengaku sudah sejak 2010 menjadi dosen Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Al-Karimiah, Beraji. Selama itu pula, menurut dia belum ada penghargaan kepada dosen yang berprestasi. Yayasan baru bisa mengucapkan selamat jika ada dosennya  yang berprestasi.

“Hanya sekedar mengucapkan selamat. Penghargaan khusus dari kampus belum,” jelasnya.

Dari penelusuran jaazaidun mekanisme upah di kampus, memang beragam. Kampus seperti STIT Al Karimiyah menggunakan patokan per SKS sistem kredit semester, 25 ribu rupiah setiap SKS. Tenaga pendidik yang mengampu mata kuliah diupah berdasarkan banyaknya SKS.

Sedangkan di kampus Unija, Universitas Wiraraja upah setiap SKS lebih besar 10 ribu rupiah dibandingkan STIT Al Karimiyah. Dosen tetap di Kampus Cemara berkisar diangka 35 ribu per SKS, dengan beban kerja setiap dosen tidak lebih dari 8 SKS.

“Di Unija setiap dosen bisa lebih 3 juta setiap bulannya, jika ditambah dengan subsidi lainnya,” kata IS dosen PGSD UNIJA.

Dikampus STKIP PGRI Sumenep, menerapkan sistem upah pada dosen tetap dengan cara berbeda. Mereka rata-rata mendapat upah enam ratus lima puluh ribu. Bagi yang berstatus java ditambah seratus ribu, kemudian kalau membimbing skripsi delapan puluh ribu.
“Kalau menguji 30 ribu, dan bimbingan proposal 25 ribu, Mas,” kata M dosen dikampus bertagline Maju dan berkembang dengan Kualitas itu.

Jumlah mahasiswa menentukan seberapa besar upah yang diterima oleh setiap dosen. Tetapi perguruan tinggi swasta yang berada dibawah naungan yayasan, selalu terkendala dengan sistem pengelolaan keuangan antara yayasan dan institusi pendidikan.

Para pengelola yayasan yang tidak visible melihat pendidikan, seringkali memanfaatkan nilai-nilai yang bernuansa  moralitas untuk menutupi tanggungjawab yang lebih besar. Dosen diperalat dengan upah yang kelewat kecil,  dengan beban kerja yang tidak rasional. Padahal untuk meraih gelar master, dan bisa mengajar di perguruan tinggi mereka harus menghabiskan ratusan juta rupiah. (Rul)

Tags

Redaksi Jaazaidun.com

Tim Redaksi jaazaidun.com

Related Articles

Close