DaerahKabar

Genealogi Keguruan dalam Aswaja Bukan Harga Sachet-an

Jaazaidun.com–Dungkek — Pimpinan Ranting Ranting (PR) Ansor Desa Romben Barat Kecamatan Dungkek adakan pengajian ke-Aswajaan, Jum’at (30/18) di Masjid Darus Salam.

Pengajian tersebut dihadiri oleh sejumlah kalangan: pengurus Pimpinan Anak Cabang Gerakan  Pemuda (PAC GP) Ansor Kecamatan Dungkek, tokoh agama, Kepala Desa, dan semua lapisan masyarakat.

Taushiyah ke Aswajaan disampaikan oleh K. Mansur Mas’ud, yang membedah genealogi keguruan dalam Aswaja bukan silsilah sachet-an. Bukan pula mematuk harga toko. Namun, mata rantai keguruan yang “nyambung” sampai Rasulullah, dengan syarat berbaris dalam Nahdlatul Ulama (UN).

Secara rinci dijelaskan bahwa dalam ber-NU, kita mengikuti para Imam mu’tabarah, misal dalam akidah mengikuti Imam Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansur Al-Maturidi. Imam Junaid Al-Bagdadi dan Imam Ghazali diprihal tasawuf. Berpegang teguh pada madzahibul Arba’ah ( Imam Syafi’i, Malik, Hanafi dan Hambali) dalam persoalan Fikih.

Secara silsilah keguruan, para tokoh-tokoh iti berguru kepada tabi’i at-tabi’in, ke tabi’in, ke para sahabat, dan para sahabat berguru langsung kepada Rasulullah Saw. Inilah hal yang membedakan NU dengan aliran lain, yang saat ini sedang menyusup dengan berbagai cara.

Sebab itu, menganut aliran Aswaja berarti satu usaha untuk menjadi indivu berharga atau bernilai mahal di mata Allah. Sekalipun di mata manusia, terkadang dianggap murahan/murah, dengan alasan hanya bertendensi pada persoalan tertentu.

Terakhir, dijelaskan warga Nahdliyyin yang budiman, adalah warga yang berprilaku moderat, seimbang, adil dan toleran. Suatu prinsip dasar yang perlu kita pegang,  guna menepis anggapan miring terhadap aliran Aswaja annahdliyah yang dianggap murahan seharga barang sachet-an. [yon/rd]

Tags

Redaksi Jaazaidun.com

Tim Redaksi jaazaidun.com

Related Articles

Check Also

Close
Close