Songkem

Santri Irfan

Jakarta – Muhammad Irfan Bahri (19) dan Ahmad Rofik (19), santri asal Waru Pamekasan yang melawan kelompok begal di Bekasi pada Selasa malam (22/05) lalu mendapat penghargaan dari Kapolres Metro Bekasi. Keduanya sempat dijadikan saksi kunci atas pembunuhan pelaku begal. Atas dorongan berbagai pihak, Irfan dan Rofik terbebas dari jeratan hukum.

Saya sebagai santri juga ikut senang dengan apresasi sejumlah pihak pada santri Irfan. Aksi Irfan ini patut dijadikan contoh bahwa santri bisa menjaga dirinya dan agamanya. Pada kejahatan kita tak boleh takut.

Aksi Irfan-Rofik ini ada sisi positif yang dapat kita ambil. Dapat menjadi pertimbangan segenap pihak tentang santri. Aksi Irfan ini dapat menjadi bukti nilai plus pondok pesantren . Ketahuilah pesantren tidak hanya membekali santrinya dengan skill dan kecakapan keilmuan, tapi juga membekali santrinya dengan kemampuan untuk melindungi diri. Inilah enaknya hidup di pesantren.

Saya mengucapkan terimakasih pada pihak kepolisian yang memproses kasus Irfan-Rofik ini secara profesional. Memang setiap orang yang membela kesalamatan dirinya seyogianya  mendapatkan kepastian hukum. Sahabat-sahabat tidak perlu segan-segan untuk membela diri dengan sekuat tenaga jika bahaya mengancam. Polisi tidak mungkin menyudutkan korban.

Kedepan kejadian ini bisa mendorong pesantren untuk lebih berperan aktif. Pesantren adalah kawah candradimuka keilmuan generasi muda negara ini dalam segala bidang.

Tentang proses pendidikan pondok pesantren misalnya, pesantren tak bakal tinggal diam untuk mendidik santrinya siap lahir dan bathin. Selama ini pesantren-pesantren salaf, terutama pesantren basis NU biasanya membekali santrinya dengan kemampuan intelektual, mental dan spritual serta kemampun bela diri. Di pondok-pondok itu santri juga diberi ruang untuk ikut ekstrakurikuler Pagar Nusa. Di Pagar Nusa ini santri dilatih dan diolah kemampuan tubuh, jiwa, mentalnya untuk bersiap membela diri dalam berbagai keadaan dan bahaya yang datang tanpa diduga.

Saya kira kita harus membuka mata lebar-lebar. Pondok pesantren, sekali lagi bukan pendidikan alternatif lagi. Kalau kita bicara keseimbangan antara imtaq dan iptek, maka ya pondok jawabannya. Kalau orang tua memang sayang pada anaknya, baik secara intelektual maupun keselamatan, mereka harus memondokkan anaknya. Tidak boleh tidak. Orang tua harus belajar banyak pada kejadian aksi santri Irfan dan Rofik ini. Saya kira ini satu momentum bersama bagi kita untuk kembali mondok. Untuk bersatu pada dalam gerakan ayo mondok.

Salam Hangat,

Nur Faizin, MA

Tags

Redaksi Jaazaidun.com

Tim Redaksi jaazaidun.com

Related Articles

Check Also

Close
Close