Songkem

Refleksi Isra’mi’raj bagi Kehidupan Kita

Isra’ Mi’raj 27 Rajab 1439 Hijriyah atau yang bertepatan jatuh pada tanggal 14 April 2018 dapat kita maknai sebagai refleksi bagi kehidupan. Apalagi tahun ini kita sudah memasuki tahun politik. Melalui momentum inilah kita dapat belajar kembali pada perjalanan Nabi Muhammad Saw bagaimana beliau merajut rekatan-rekatan sosial warga, mengutip almarhum Nurcholish Madjid, menuju masyarakat madani. Masyarakat aman dan sejahtera nir kekerasan, kecurigaan, dan fitnah.

Isra Mi’raj adalah peristiwa penting dalam risalah kenabian Muhammad. Mukjizat nabi Muhammad Saw ini dapat kita maknai sebagai akar terbangunnya ikatan-ikatan keumatan dan kebangsaan di bawah panji Islam. Isra’ mi’raj yang menurut akal sehat belum mampu kita cerna, secara tidak langsung telah mengajarkan kepada kita untuk mengesakan Allah SWT dengan cara yang paling baik.

Isra’ mi’raj elan vital dalam proses kenabian Muhammad SAW. Bagitu istimewanya isra’ mi’raj hingga perjalanan Nabi Muhammad tersebut diabadikan dalam al-Qur’an Surah Al-Isra. Surah Makkiyah tersebut seperti dikatakan Jalaluddin Muhammad ibn Ahmad Muhalli dalam Tafsir Al-Quran Al-‘Adhim sebagai keagungan Muhammad dalam mengemban risalahnya.

Jalaluddin, dalam kitab yang mafhum disebut Tafsir Jalalain oleh kalangan pesantren ini menjadi rujukan utama tafsir Al-Qur’an. Mengisahkan bahwa perjalanan Muhammad Saw dari Masjd Al-Haram ke Bait Al-Maqdis di Palestina hingga ke Sidratu Al-Munthaha (setelah langit ketujuh) menemukan rintangan yang besar dari Iblis. Dengan landasan iman dan nur Rasulullah Saw beliau dapat melaju ke Sidratu Al-Munthaha dengan menaiki Bouroq (para mufassirin memaknainya semacam burung yang mempunyai kecepatan di atas cahaya). Dalam perjalanan mi’rajnya, Muhammad berjumpa dengan para Malaikat dan para Nabi pendahulu seperti Adam, Yahya, Isa, Yusuf, Idris, Harun, Musa dan Ibrahim.
Yang menjadi cacatan istimewa dalam Mi’raj Muhammad adalah perjalannya menuju Sidratu Al-Munthaha tidak dapat dicapai oleh Jibril ataupun para Nabi yang lain. Hal ini mengindikasikan bahwa Muhammad adalah manusia terpilih dan istimewa di sisi Allah SWT. Selain itu, makna paling transendental dalam Isra’ Mi’raj Muhammad SAW adalah perintah shalat lima waktu sebagai fondasi setiap manusia.

Perintah shalat yang diperintahkan kepada Muhammad melalui Isra’ Mi’raj bukanlah demi kepentingan dan ketaatan hamba kepada Tuhannya semata, namun juga demi hubungan sosial yang akan tercipta antar individu dan masyarakat. Nah, di level syariat seseorang selesai dengan dirinya sendiri jika ia mampu menyempurnakan shalatnya setiap waktu.

Peristiwa tersebut tidak hanya mengisyaratkan tentang keteguhan iman kita umatnya, tapi juga bagaimana nilai isra’ mi’raj yang diemban Muhammad dapat menjadi ruh bagi kehidupan sosial kita yang saat ini.

Menjadi Pecut
Banyaknya problematika sosial yang semakin akut dewasa ini membutuhkan keteguhan iman seluruh elemen masyarakat untuk berfikir dewasa dan mengambil seluruh iktibar (kemanfaatan) sebagai referensi di masa mendatang. Menyandarkan segala urusan (bertawakal dan mengabdi) kepada Allah SWT merupakan salah satu bentuk pemaknaan yang paling transendental selain berusaha dan bersyukur. Dari sinilah kita dapat mengambil saripati bahwa hubungan sosial dan politik seyogianya terpatri nilai-nilai keimanan, nilai kemanusiaan, dan keadaban. Kita yang beriman dapat menginternalisasikan peristiwa Isra Mi’raj dalam kehidupan sehari-hari.

Tak hanya di tataran sosial politik, patologi sosial yang menggejala dewasa ini, misalnya maraknya kekerasan dan pembunuhan diberbagai daerah dengan berbagai macam tindakan dan motif, penipuan besar-besar, dan atau tindakan amoral lainnya yang memicu instabilitas sosial serta ketikdapercayaan antara satu orang dengan orang lain atau kelompok satu dengan kelompok lainnya merupakan penyakit akut yang diderita oleh bangsa ini. Apabila tidak ada kesadaran massif berbasis ketuhanan dan kemanusiaan untuk lebih baik maka bangsa ini akan sakit dan selanjutnya mengancam kohesi sosial.

Kesadaran sosial berbasis ketuhanan dan kemanusiaan telah diajarkan oleh Nabi Muhammad lewat serangkaian kisah dan pelajaran hidupnya. Mengapa shalat menjadi penting dengan perintah langsung pada beliau misalnya? Tidak lain sebagai bentuk ketaatan umat dan menjadi pengendali bagi kehidupan individu, bermasyarakat, dan bernegara.

Hal lain yang dapat kita manifestasikan ke dalam realitas sosial kita ialah dengan mengembalikan fitrah Isra’ Mi’raj dengan sepenuhnya ketaatan guna tercipta harmonisasi yang terhubung antara Tuhan, kita, dan makhluk hidup lainnya.
Sebagai manusia kita patut bertanya untuk apa kita dilahirkan. Kita adalah manusia yang terpilih sejak sebelum kita dilahirkan ke dunia ini. Hidup akan menjadi hambar dan tidak berarti apabila kesejatian hidup ini dijalankan dengan ‘serampangan’, ‘semaunya sendiri,’ serta hanya menuruti hawa nafsunya.

Maka momentum Isa Mi’raj dapat menjadi pecut bagi kehidupan kita kini dan di masa mendatang untuk selalu berbuat demi kebaikan, ketuhanan, dan kemanusiaan. Isra’ berarti memperbaiki hubungan dan realitas sosial menjadi lebih baik. Dan mi’raj sebagai media membuka dimensi ketuhanan dalam diri kita.

Salam takzim,

Nur Faizin, MA

 

Tags

Related Articles

Check Also

Close
Close