Songkem

Ketika Rahasia Disingkap

Kisah ini dinukilkan dari cerita Syaikh Shihabuddin al-Qalyubi tentang seorang budak belia.

Di jazirah Arab masa dahulu jual beli budak hal yang lumrah. Suatu hari seorang pria berkeluarga hendak membeli budak. Ia tertarik pada seorang budak belia yang dirasa kuat untuk membantu mengurus rumahnya yang megah. Setelah tawar menawar disepakatilah sang budak menjadi abdi di rumah tuannya. Sebelum bekerja memenuhi perintah tuannya, sang budak mengajukan syarat.

“Tuanku yang dermawan. Saya memohon tiga syarat sebelum saya mengabdi di rumah Anda. Pertama, bila waktu shalat tiba perkenankan saya menunaikanya. Kedua, pekerjakan saya di siang hari saja. Ketiga, bangunkan saya gubuk kecil bermihrab yang tak seorang pun boleh masuk kecuali saya sendiri,” pinta sang budak.

Hari demi hari si budak belia mengabdi pada keluarga tuannya. Sepanjang hari ia berada di rumah tuannya. Ketika tiba waktunya shalat ia berhenti sejenak untuk menunaikan kewajiban pada Tuhannya. Ketika matahari menyingsing hingga terbit fajar ia berlama-lama di dalam gubuk sendirian.

Pada suatu ketika di penghujung malam tanpa sengaja si tuan berkeliling di sekitar pekarangan rumahnya. Tiba-tiba dia tertegun menyaksikan seberkas cahaya putih jatuh tepat di atas gubuk budaknya. Samar-samar ia menyaksikan budaknya bersujud dan berdoa kepada Allah SWT; “Ya Allah Tuhanku Yang Maha Segalanya. Siang hari hamba diwajibkan untuk melayani kebutuhan keluarga tuan hamba. Andai hamba tidak repot, niscaya hamba hanya mengabdi pada-Mu siang dan malam. Wahai Tuhanku Yang Maha Kasih, jadikanlah urusanku di siang hari sebagai uzur hamba kepada-Mu.”

Keesokan harinya, si tuan menceritakan pengalaman aneh tersebut pada istrinya. “Mungkin kamu menyaksikan pengalaman tersebut karena dipengaruhi minuman yang engkau tenggak semalam bersama teman-temanmu. Engkau mabuk dan mengigau suamiku,” ungkap istrinya.

“Tidak. Aku tidak dipengaruhi minuman. Nanti malam kita saksikan bersama,” tandas si suami.

Saat tiba di penghujung malam pertama, pasangan suami istri terperanjat. Mereka menyaksikan seberkas cahaya putih menyinari seluruh mihrab gubuk budaknya. Saat terbit fajar, si tuan memanggil budaknya.

“Saat ini, kami membaskanmu sepenuhnya agar kau tidak terganggu lagi berhubungan dengan Tuhanmu,” ungkap si tuan.

Sang budak belia terharu. Dia lalu mengangkat tangannya dan bermunajat: “ Ya Allah, hamba selalu memohon kepada-Mu agar rahasia keadaan hamba jangan Engkau singkapkan. Maka, setelah Engkau menyingkapnya…”

Belum sempurna berdoa, sang budak yang baru merdeka itu pingsan. Beberapa saat kemudian, dia wafat menemui Kekasihnya. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Rupanya sang budak selalu merahasiakan ibadah malamnya. Allah SWT mempunyai kehendak lain. Jika Allah SWT berkehendak Dia menyingkapkan apa yang ada dibumi dan di langit.

Dari kisah tersebut dapat kita petik pelajar berharga bahwa orang-orang yang dekat dengan Sang Khalik selalu memiliki keistimewaan. Tidak peduli ia seorang budak. Ketika kecintaanya pada Sang Maha Kekasih melebihi alam semesta begitu tidak berartinya apa-apa yang ada di dunia ini. Semoga kita tetap diberikan kesehatan lahir bathin untuk mengabdi sepenuhnya pada Sang Maha Segalanya. Selamat berbuka puasa dan berkumpul bersama keluarga. Irhamnaa bi rahmatikaa yaa Arhamarrahimin. (redaksi)

Sumber: Disarikan dari An-Nawadir karya Syaikh Shihabuddin Al-Qalyubi

Tags

Related Articles

Close