Songkem

Bulan Bung Karno: Pantes!

Pantes! Kata ini saya ambil dari ribuan kosa kata bahasa Madura. Dalam bahasa Indonesia, kata ini bisa diartikan pantas, patut, layak, sesuai, cocok, tidak mengherankan, dan tampak bagus. Di kalangan orang-orang Madura kata ini dipakai untuk menggambarkan dan menegaskan sesuatu yang memang layak.

Andai dalam pernikahan, kata pantes digunakan untuk menggambarkan dan menegaskan, bahwa si suami dan si istri merupakan pasangan yang klop. Pasangan yang dalam berbagai sisi se-kufu (seirama). Di dunia pesantren, kata tersebut digunakan untuk menandaskan pantasnya seorang kiai atau santri untuk mendapatkan pengakuan dan penghargaan dalam keilmuan. Tak ada keraguan lagi. Tak ada pertanyaan sangsi lagi.

Dalam hal ini, saya ingin menggunakan kata ini untuk menyambut bulan Bung Karno. Memang pantes Bung Karno untuk dirayakan. Bukan karena Bung Karno Bapak Proklamator. Atau karena Bung Karno adalah presiden pertama Negara Republik Indonesia. Bung Karno memang pantes dirayakan atas segala pikiran-pikiran progresifnya sekaligus kegagahan orasinya yang menginpirasi setiap orang untuk berbuat lebih terhadap negara dan bangsanya.

Pikiran-pikiran progresif Bung Karno dapat kita lihat pada keputusan-keputusan briliannya. Pancasila dapat dibilang menjadi satu kritalisasi pikiran Bung Karno –bersama para Bapak Bangsa lainnya- dalam merumuskan arti penting dasar-dasar kehidupan berbangsa dan bernegara yang digali dari khazanah lokal Indonesia. Bung Karno tidak terjebak dalam kutub atau blok. Nasionalisme yang ditawarkannya berpijak pada nilai-nilai luhur bangsa. Karena itu, ide-ide yang dilontarkannya mengandung nilai yang melintasi ruang-waktunya.

Dari berbagai pengalaman kehidupan dan pergumulannya dengan keilmuan, kemudian ia torehkan ide pancasila dalam Panca Azimat Revolusi. Tidak salah apabila atas gerakan yang dilakukannya pada saat revolusi 1920-1930-an mengharuskan ia sering kali menginap di hotel prodeonya Belanda. Kelima formulasi itu adalah, (1) Nasakom (sejak tahun 1926 dalam tulisan nasionalisme, Islamisme, marxisme). Lalu azimat (2) Pancasila yang lahir tahun 1945. (3) Manipol/USDEK lahir tahun 1959, (4) Trisakti (berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang kebudayaan) tahun 1964, dan (5) Berdikari (berdiri di atas kaki sendiri) lahir tahun 1965.

“Beri aku sepuluh pemuda, akan aku guncang dunia” satu seruan Bung Karno yang tidak hanya menyiratkan harapan dan optimisme terhadap eksistensi kaum pemuda. Seruan ini juga menandaskan posisi kaum muda pada zamannya. Hal itu bisa kita lihat dalam babakan sejarah negara-bangsa ini. Sumpah Pemuda, Kebangkitan Nasional, detik-detik proklamasi, pergantian rezim Orde Baru ke era Reformasi; semuanya dimotori oleh para pemuda.

Pada era milenial, pemuda tidak hanya mengguncang dunia. Pemuda telah melakukan berbagai terobosan dan perubahan untuk dunia. Mark Zuckerbeg satu dari sekian anak muda yang mengguncang dan mengubah wajah dunia. Dunia tidak lagi terpisah atau tertutup. Facebook menjadi media sosial yang menghubungkan satu tempat ke tempat yang lain dalam satu garis waktu.

Di Indonesia, kaum milenial memainkan peran cukup vital dalam berbagai bidang. Mereka membangkitkan gairah dan optimisme Indonesia untuk lebih baik. Dalam dunia ekonomi kita dibuat berdecak kagum pada kepiawaiannya. Contoh dari sekian anak muda berbakat dalam dunia seni misalnya, kita punya Joe Alexander Sila pianis muda yang sudah pernah tampil di acara Jazz at Lincoln Center, dalam dunia e-comerce kita akan akrab dengan Ferry Unardi, alumni Purdue, Amerika dan pendiri traveloka, dan dalam politik kita mengenal Cak Imin, sosok politisi muda dengan semangat riang-gembira dalam membangun negara-bangsa.

Seruan Bung Karno pada kaum muda tidak hanya optimisme. Bung Karno juga meninggalkan konsep dan panduan bagi kaum muda dalam melangkah.

Trisakti Bung Karno saya kira adalah seruan lain yang harus kita dengarkan. Berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi dan berprikepribadian dengan budaya. Hari ini kita dihadapakan pada satu tantangan multi-dimensi. bahkan kalau tidak berhati-hati, kemajuan yang kita idamkan justru menyisakan kerusakan.

Daulat Politik

Karena itu, daulat politik harus menjadi pijakan kaum muda dalam melangkah. Daulat politik adalah satu semangat, segala cita-cita, keinginan dan harapan satu Indonesia yang harus dilaksanakan dengan semangat membumi. Semangat yang tidak terkontaminasi oleh paham asing. Sehingga kemajuan yang kita idamkan dan ingin kita capai benar-benar bermanfaat buat bangsa dan negara.

Sementara berdikari ekonomi dapat kita terjemahkan sebagai semangat bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Saat ini kita berhadapan dengan berbagai kebijakan dan isu pasar bebas. Persaingan semakin terbuka. Karena itu, kemandirian dalam ekonomi –terutama kaum muda- akan menetukan posisi Indonesia dalam percaturan global.

Kalau kita tidak mampu bersaing, dipastikan kita akan menjadi babu di negeri sendiri. Dan pada akhirnya, untuk menjaga etos kerja, kemandirian ekonomi dan kedauatan politik, kita harus bergerak dengan karakter dan kepribadian kita. Berkepribadian dengan budaya adalah satu narasi, bahwa kita harus tetap berpegang teguh pada nilai-nilai, ajaran dan prinsip nenek moyang. Dengan demikian, perubahan zaman dan pergeseran global tidak serta merta membuat kita kehilangan arah.

Akar kebangsaan dan kebhinikaan yang tercantum dalam dasar negara pancasila bukanlah ideologi yang apatis, ia merupakan suara rakyat yang coba dijewantahkan Soekarno dan para funding fathers bangsa. Inilah yang menjadi akar. Dan harus dijadikan akar kita dalam berbangsa, berbudaya, dan bernegara.

Lewat pancasila seperti halnya Este Agustinus yang mengumandangkan bahwa Voks Populi Voks Dei, suara rakyat adalah suara Tuhan. Maka Soekarno dengan ideologi Nasakomnya coba untuk mendirikan bangsa yang benar-benar berdikari di segala prikehidupan. Nasakom yang dirumuskan Soekarno adalah rumusan atas revolusi yang coba menghadirkan negara Indonesia yang berdiri di kakinya sendiri, bukan di kaki bangsa lain.

Sekali lagi, di bulan Juni ini, Bung Karno memang pantes untuk dirayakan. Dan kita sebagai anak muda harus banyak mendengarkan seruannya.

Nur Faizin, alumnus Pascasarjana Sosiologi UGM Yogyakarta. Kini giat sebagai Pengurus PP GP Ansor dan Korwil Madura Densus 26.

Tags

Redaksi Jaazaidun.com

Tim Redaksi jaazaidun.com

Related Articles

Check Also

Close
Close