Songkem

Berbagi

Saya yakin, Anda pernah mengalaminya. Bahkan pengalaman Anda mungkin lebih berkesan dari pengalaman saya. Tapi perkenankanlah saya menuliskan pengalaman saya yang tak seberapa itu. Saya berharap, pengalaman saya menjadi bagian dari pengalaman Anda.

Menjelang lebaran Idul Fitri kemarin, teman-teman meminta saya menggerakkan Relawan C1nta Madura berbagi takjil di Kota Sumenep. Saya berdegup. Semasa kuliah di Yogyakarta, mahasiswa seperti saya sudah lumrah dengan berburu takjil saban bulan puasa dari satu masjid ke masjid lainnya. Teman-teman menyebutnya PPT  (Para Pemburu Takjil). Berburu takjil tidak hanya bisa menghemat isi kantong. Berburu takjil menyisakan cerita tersendiri: kita bagian kebersamaan.

Berbagi takjil sore itu sudah terbesit dalam kepala sejak awal puasa. Tapi kesibukan kota Jakarta dan bolak-balik Jakarta-Sumenep memaksa saya hampir kehilangan fokus. Selepas 10 hari pertama Ramadhan, seorang teman mengingatkan hal itu. Saya pun mendistribusikan keinginan berbagi takjil pada teman-teman. Saya pasrah penuh pada mereka: waktu dan tempat berlangsungnya.

Tak ada alasan istimewa yang menggerakkan keinginan berbagi takjil. Mungkin alasannya tidak jauh beda dengan cita-cita agung Anda: mendapatkan pahala yang berlipat di bulan suci ramadhan. Ramadhan bukan sekadar ladang pahala bagi orang-orang yang beribadah. Ramadhan adalah mesin pelipatgandakan pahala yang tidak ditemui di luar ramadhan. Karena itu, ramadhan menjadi arena perlombaan bagi para hamba yang shaleh.

Pukul 16.00 udara Taman Bunga Kota Sumenep menyisakan terik siang. Tukang becak dan pengunjung toko tingkat memenuhi ruas jalan. Depan masjid Agung Sumenep berjejer kendaraan, dan pos polisi menandai titik lambat laju kenderaan. Pada pojok taman bunga di sisi barat-utara saya dan teman-teman menyiapkan bahan-bahan takjil yang mau dibagikan.

Satu-dua teman bergerak. Satu-dua orang-orang di sekitar mendekat. “Saya minta, Kak” seorang anak kecil mencegat saya. Pada babakan berikut, saya diserbu gelombang: tukang becak, pengunjung toko tingkat, anak-anak muda di Taman Bunga, berpusar dalam satu gelombang. Membentuk satu arus ke arah saya. Saya kewalahan. Kantong plastik takjil saya ambil begitu saja. “Terima kasih, Kak.” Terimakasih, Nak” “Saya satu, Nak.” “Satu lagi,” suara-suara itu tumpang tindih. Saya tidak bisa mengenali satu-satu. Keringat merembes di punggung dan kakiku. Tapi saya tak peduli.

Satu arus menyusut. Hanya tinggal satu dua kepala menatapku. “Saya, Nak,” seorang nenek menatapku. Aih, di tangan kantong plastik habis. Aku mencari di kardus, juga kosong. Aku melambai pada Hayat (Irwan Hayat, Sekwil Densus 26 Madura). Dia menyodoriku dua kantong plastik. “Terimakasih, Nak,” perempuan itu menepuk-nepuk pundakku. Dalam beberapa menit, perempuan itu merasa perlu mengusap cucuran keringatku dengan tatapan sendunya.

Saya tertegun. Nenek itu seperti mendesirkan udara segar dalam tubuhku. Tepukan tangannya seolah ingin mengatakan, “teruslah berbagi dengan orang lain.” Saya merasa plong. Benar-benar plong. Saya merasa terbebas dari beban ribuan ton yang bertahan bertahun-tahun di pundak. Saya pun ngeh, ngarte (mengerti), berbagi takjil itu bukan sekadar urusan pahala yang berlipat. Bukan sekadar harapan menyempurnakan puasa kita dengan kebaikan-kebaikan pada sesama.  Sore itu, berbagi takjil telah memberi desir lain dalam diri saya. Entah seperti saya menggambarkannya. Yang pasti, berbagi takjil membuat saya merasa plong. Apalagi tatapan sendu nenek itu, dan ucapan terimakasihnya yang diucapkan dengan pelan dan dengan irama tepukannya di pundak, membuat saya akan merindukan detik-detik sore itu.

“Tuhan, berilah saya kemampuan dan kesempatan untuk berbagi dengan orang lain. Amin.”

Salam takzim,

Nur Faizin

Tags

Redaksi Jaazaidun.com

Tim Redaksi jaazaidun.com

Related Articles

Check Also

Close
Close