Opini

Tellasan Topa’

Mendengar topa’ atau ketupat mungkin ingatan kita akan merujuk pada perayaan lebaran atau hari-hari penting. Ya, biasanya topa’ ini dihidangkan ke tengah-tengah keluarga saat perayaan lebaran Idul Fitri atau Idul Adha.

Secara turun temurun ini menjadi icon yang kita lakukan. Selain dua hari raya tersebut, topa’ juga hadir secara khusus tujuh hari setelah lebaran Idul Fitri. Momen ini dikenal dengan tellasan topa’ atau lebaran ketupat.

Tak ada yang tahu pasti siapa pertama kali membawa tradisi tellasan topa’ di Madura. Tapi nampaknya asal muasal perayaan ini merujuk ke tradisi Islam Jawa yang dibawa Sunan Kalijaga. Dilansir suaraislam ketupat yang kita makan itu sarat simbol dalam pembuatannya. Mulai dari asal makna ketupat yang bermakna ngaku lepat atau mengakui kesalahan. Idul Fitri biasanya menjadi momentum handai taulan berbagi kasih dengan bermaaf-maafan. Mereka saling mengakui kesalahan. Walaupun kadang tidak melalui kata-kata bersalaman saja sudah dianggap cukup meleburkan dosa setahun lalu.

Selain makna mengakui kesalahan. Banyak makna filosofis lain yang terkandung dalam makanan yang berbahan dasar beras ini. Dari bungkus misalnya, sebagian besar masih terbuat dari janur kuning yang melambangkan penolak bala. Janur artinya sejatine nur (cahaya).

Ada pula prinsip kiblat empat sudut yang dilambangkan empat segi pembuatan ketupat. Ini bermakna ke mana pun manusia menuju, pasti selalu kembali kepada Allah swt. Kiblat empat sudut ini juga melambangkan empat mecam nafsu manusia yang harus dilawan.

Pertama, nafsu ammarah. Nafsu ini dimiliki hampir semua manusia. Nafsu yang satu ini menjadi elemen dasari sifat manusia yang berasal dari unsur api. Unsur api mudah tersulut, gampang emosional, ambisius, dan biasanya tak terkendali. Karena nafsu ini sifat dasar manusia, jadi nafsu ini dapat kita kelola dengan baik.

Bagaimana caranya? Mengarahkan nafsu ini ke dalam hal-hal yang positif, misalnya nafsu ini dijadikan ambisi untuk maju dan memajukan agama Islam. Tapi kalau kita tidak mengelola dengan baik, kita dapat terjerumus pada tipu muslihat kejahatan. Tetap saja, nafsu ini harus diikat dan dilawan dengan kebaikan yang juga menjadi sifat dasar kita.

Kedua, nafsu lawwamah. Nafsu ini yang acap membawa manusia tidak tegas dalam bersikap, mencla-mencle, tidak berpendirian, selalu menyesali perbuatan, nyinyiran, dan lainnya. Nafsu yang satu ini juga selalu mengajak kita untuk hidup bermegah-megahan, matre, dan tamak pada harta. Di dalam sifat nafsu ini ada pula sisi baiknya. Dengan cara mengontrol sisi baiknya, kita dapat mengarahkan diri kita tidak terbawa angin keburukan yang ada pada nafsu ini. Sisi baik dari nafsu ini ialah nafsu muthmainnah, yakni jiwa yang sudah mendapatkan ketenangan lahir dan batin.

Ketiga, nafsu mulhimah yang merupakan nafsu yang ditimbulkan oleh mata atau penglihatan. Hampir banyak dosa kita berawal dari mata. Sifat dari nafsu ini merujuk pada air. Air dapat menjadi sumber malapetaka, dapat pula menjadi sumber penghidupan bagi kita. Seberapa besar kita mengatur nafsu ini sebesar itu pula hasil yang kita dapat. Sebagaimaan sifat air, dengan mengendalikan nafsu ini kita dengan mudah menempatkan dan menyesuaikan diri di mana pun, kapan pun, dan saat berhadapan dengan siapa pun.

Keempat, nafsu alumuah. Nafsu yang satu ini biasanya ditimbulkan oleh mulut, pencernaan, atau kenikmatan rasa. Seseorang yang sudah mencapai keempat jenis nafsu ini akan menjadi muthmainnah atau tenang.

“Hai jiwa yang tenang (muthmainnah). Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, Masuklah ke dalam syurga-Ku.” (QS. Al Fajr : 27-30)

Bagaimana di Madura?

Jika kita dapat resapi, empat dimensi itu dapat lebur di dalam diri kita pasca lebaran Idul Fitri. Pepatah Madura mengatakan, “mon apoasa tak teppa’, jhak atellasan topa’” artinya tellasan topa’ diperuntukkan mereka yang berpuasa enam hari. Kalau yang tidak puasa Syawal tak boleh merayakan tellasan topa’?

Boleh-boleh saja. Malah perayaan tellasan ini bergeser pada memanjakan diri dengan segala macam hiburan dan berwisata. Ini yang seharusnya dapat kita tekan dalam nafsu kita. Jangan sampai merayakan kebaikan berlebihan atau malah banyak unsur maksiatnya.

 Atellasan topa’ di Madura dewasa ini mengalami pergeseran serius. Minimal saya melihatnya di Sumenep. Perayaan yang sejatinya menjadi landasan bersyukur pada Allah SWT kini lebih banyak euforianya. Saat tellasan topa’ yang namanya Pantai Lombang Sumenep, misalnya, tak ada matinya. Walau tak berpuasa Syawal, mereka merayakan hari ketupat dengan hiruk-pikuk dentuman musik dari soundsystem mobil pick-up. Ini tak hanya satu.

Di mana-mana orang lalu lalang ke sana ke mari dengan menaiki pick-up yang berisi segerombolan dengan soundsystem ya yang besar. Tentu berisik. Ini yang di Sumenep saja, di luar Sumenep entahlah. Mengunjungi tempat wisata sah-sahs saja, tapi kalau mengundang hiruk pikuk dan kebisingan saya khawatir makna perayaaan ketupat sekedar mengumbar hawa nafs. Dan ini bersemberangan dengan nilai filosofi ketupat empat segi.

Atellasan topa’ a reng sareng bhala tangge. Adhe’er kaldu kokot otabe soto Madure. Tengka tor petotor tak teppa’ marge nafso nyegghe, mila abhe’ sepa’ ngereng lampana reng seppo tor ghuru se moljhe.

Faishal Rimzani, S.Sos, Sekretaris MDSRA PC. GP. Ansor Sumenep

Tags

Redaksi Jaazaidun.com

Tim Redaksi jaazaidun.com

Related Articles

Check Also

Close
Close