Opini

Narasi Lan Radikalisme di Media Sosial

Oleh : Luthfi Afif Azzainuri*

Majelis Ulama Indonesia (MUI)  menerbitkan fatwa tentang haramanya bermedia sosial (medsos) yang mengandung unsur fitnah, bully, adu domba, ujaran kebencian atas nama ras, kelompok, dan agama tertentu (05/06/2017). Fatwa ini sebagai respon MUI terhadap semakin dahsyatnya arus pengguna medsos  yang mulai mulai keluar dari batas moralitas. Ditelisik lebih jauh, Hukum penggunaan medsos ini berhubungan dengan semakin maraknya radikalisme agama yang mengancam terhadap kesatuan Negara Indonesia. Fatwa ini sekaligus memperkukuh kebisingan masyarakat dan pemerintah terhadap organisasi radikal seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), yang sebelumnya akan dibubarkan oleh Pemerintah melalui Menko Polhukam.  

Ihwal medsos yang bebas dan menjadi representasi demokrasi Indonesia di era digital, sebenarnya tumbuh subur pasca tumbangnya era Orde Baru dan lahirnya era reformasi 1998 silam. Era reformasi yang menjanjjkan kebebasan berpendapat semua warga negara, medsos kemudian menjelma menjadi medium tanpa batas menembus sekat usia, kepandaian, teritorial, status sosial. Medsos menempatkan semua warga negara setara dengan harapan demokrasi kita semakin dewasa dan paripurna.  

Pengguna internet  dari tahun ke tahun terus meningkat. Menurut e-Marketer, pengguna internet di Indonesia memperkirakan mencapai 112 juta orang pada 2017. Dan sekitar 95 persen mengakses media sosial. Menurut Direktur Pelayanan Informasi Internasional Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik (IKP), Indonesia menempat peringkat keempat pengguna facebook tersebesar setelah USA, Brazil, dan India. Berdasarkan temuan PT Bakrie Telecom, pengguna twitter di Indonesia mencapai 19, 5 juta pengguna dari total 500 juta pengguna di seluruh dunia.  

Namun, akhir-akhir ini medsos kerap menampilkan pesan teror nan menakutkan. Medsos menjadi arena ajang hujatan, berita hoax, pornografi, permusuhan, hinaan, dan isu SARA. Salah satu contoh yang masih hingar diingatan adalah Pilkada DKI Jakarta yang kental akan isu agama, yang kemudian kasus teror bom di kampung Melayu dengan foto-foto yang bertebaran di medsos.

Salah satu yang menjadi perhatian serius adalah bagaimana medsos justru menjadi lumbung paham radikal agama yang menebar ancaman terhadap keberagaman agama dan keberlangsungan negara Indonesia yang berasaskan pancasila ini. Ajaran agama yang keras dan intoleransi seperti jamur di musim penghujan. Konten esai, visualisasi, gambar, dan video kerap ditampilkan oleh kelompok radikal di medsos untuk mendoktrinasi penggunanya.

Narasi Lain Radikalisme

Tak pelak, dunia maya yang banyak penggunaya adalah kaum muda kerap menjadi korban roll ekstrimisme kaum radikal. Dalam sebuah artikel yang berjudul “how tech can fight extremism”, di CNN New pada 17 Februari 2015 silam, berkesimpulan bahwa kelompok radikal, terutama ISIS menjadikan medsos sebagai senjata utama untuk memperluas teritorial dan dukungan secara global, pendanaan, transmisi ideologi, propaganda, mainstream politik baru melampaui nation-state suatu negara.

Ditambah dengan data mencengangkan yang dirilis oleh twitter, bahwa ISIS telah membuat 700.000 akun twitter yang terkoneksi dengan beragama kelompok radikal di belahan dunia. Sehingga, perusahaan twitter mengawasi secara ketat konten yang bernuansa agenda terorisme dan transnasional.  

Setidaknya ada tujuh model yang digunakan kelompok radikal sebagaimana dikemukakan oleh United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) pada 2011. Beberapa di antaranya adalah propaganda, perekrutan, penyebaran teror, pendanaan, dan pelatihan.

Namun, dewasa ini muncul narasi lain selain teror, ancaman, dan pengkafiran. Sebagai respon atas radikalisme yang juga diistilahkan Greag Fealy sebagai genuine phenomena, yang bercorak baru dan khas di Indonesia, radikalisme di medsos mulai mengarah pada eksistensi, gaya hidup, kesuksesan, bantuan kemanusiaan, dan jalan lain dalam bermasyarakat.

Eksistensi kelompok radikal mewartakan bagaimana kelompok ini jauh lebih menjanjikan dalam mensejahterakan hidup serta jaminan lain yang tidak diberikan oleh paham Islam moderat seperti NU dan Muhammadiyah serta peran negara. Michelle Hughes dan Michael Miklaucic, yang dikutip Wildan Nasution, dalam bukunya yang berjudul Impunity: Countering lllicit Power and Ward Transition, mengatakan bahwa penggunaan medsos kelompok radikal juga sebagai instumen untuk membangkitkan simpati, solidaritas, kepedulian, semisal kemiskinan, ketimpangan sosial, ketidakadilan dan frustasi politik.   

Kontra Narasi

Langkah taktis yang mesti ditempuh oleh organisasi keagamaan dan pemerintah adalah dengan melakukan kontra narasi. Hal ini bertujuan untuk menampilkan medsos yang lebih berwarna Islam Indonesia melalui konten video, gambar, mame, opini dan lain sebagainya. Langkah ini juga sebagai upaya kontra propaganda medsos yang ditampilkan paham Islam radikal yang menjanjikan utopia baru dan antipancasila.

Langkah pemerintah melalui pelarangan konten radikal sebagai upaya serius. Namun melihat spektrum medsos yang luas dan cost yang murah, misi kelompok radikal tak akan jera dan perlu kontra narasi dari kelompok Islam moderat dan seluruh lapisan masyarakat untuk aktif bermedsos dengan bersandar ilmu pengetahuan Islam Indonesia, seperti kedamaian, sejarah Islam, dan kemantapan spiritualitas. Medsos harus menjadi ruang berbagi ilmu, kebaikan, pengetahuan, sebagaimana saran Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siradj.

Di lain itu, dilantiknya pengarah Unit Kerja Presiden Pembina Ideologi Pancasila (UKP PIP) yang berjumlah 9 orang, 7 Juni 2017 kemarin, semoga bisa menghasilkan ide dan konsep tangkas menangkis paham radikal. Di salah satu stasiun telvisi, anggota UKP PIP, Mahfud MD, mengatakan bahwa sila kelima “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” sebagai kunci untuk menghilangkan konflik agama dan antipancasila. Dengan tandingan ide, opini, dan mewujudkan keadilan sosial, radikalisme akan tumbang dan kita semakin mantap bahwa kita adalah Indonesia, kita adalah pancasila, dan kita adalah bhineka tunggal ika.                   

*Luthfi Afif Azzainuri, Peneliti Tirai Indonesia dan Sekretaris LPP DPW PKB DI. Yogyakarta

Tags

Redaksi Jaazaidun.com

Tim Redaksi jaazaidun.com

Related Articles

Check Also

Close
Close