CoretanOpini

Memilah Kemudian Memilih

Jaazaidun.com–Berbicara tentang panutan, kulit luar (popularitas) lebih sering jadi pertimbangan pertama seseorang mengidolakan orang lain. Sayangnya ini juga berkelindan pada perilaku kehidupan sehari-hari. Sebaliknya personalitas atau kita anggap sebagai keindahan yang terkandung di dalam diri (inner beauty) acap menjadi pertimbangan ke sekian. Personalitas yang baik acap kali tak dihiraukan.

Inilah kondisi masyarakat kita dewasa ini. Masyarakat, meminjam istilah O Solihin, yang seoalah-olah menjadi bebek. Perilaku menyimpang dianggap biasa. Contoh yang paling sederhana kemesraan yang ditampilkan televisi dianggap lumrah dan sayangnya juga ditiru anak muda masa kini. Sungguh ironis. Sebenarnya, kepada siapakah kita berpanutan?

Kalau kita melihat yang ideal, tokoh yang dianut seyogianya dapat mencerminkan karakter baik; dari pitutur hingga sikap sehari-hari. Sikap yang tidak hanya lipstik belaka. Seoalah-olah baik di depan, tapi bobrok di belakang.

Sejatinya, tokoh yang patut kita contoh dalam kehidupan sehari-hari ialah insan pilihan yang mampu membawa kita pada dunia yang penuh pelita dan membuat hidup harmoni. Tokoh ideallah yang wajib jadi panutan kita. Karena, tokoh ideal itu yang bisa menginspirasi kita untuk bertindak yang lebih bermakna.

Teladan ideal adalah insan yang berkerakter jujur, cerdas, dan amanah. Jujur dalam setiap langkah dan bahasanya. Cerdas intelektual berperan sebagai obor hidup dalam dirinya. Amanah merupakan buah dari sikap jujur dan cerdas itu, yang disampaikan (tabligh) melalui perilaku kesehariannya. Kesemua sifat di atas yang menentukan idealitas seorang teladan atau panutan. Jiika sudah demikan, tiada ragu lagi untuk dijadikan panutan yang hakiki. Bukan karena tenar lalu dijadikan panutan secara buta.

Tapi sering kali fakta berbicara lain. Realita, ada atau banyak di antara kita ikut orang yang hidup mewah dan lupa lingkungan sekitar. Karena, insan tersebut tersebut tidak berada dalam garis teladan ideal. Yang terjadi adalah sikap intoleran dan individualistik yang lahir dari hidup hedon. Kemewahan dunia menjadi virus moral dirinya. Kemewahan menjelma duri dalam kehidupan, menjadi jarum yang menusuk bagi daging, dan menjadi belati penebas harmonisasi.

Tiada yang salah. Tapi banyak yang berbuat salah. Salah memilih idola. Idola hidup. Kesalahan tersebut mengakibatkan pada distorsi tatanan sosial. Muncul tatanan baru, yaitu individualistik dan hedon. Kredo lama mengatakan: “makan tidak makan yang penting kumpul”, sekarang berbalik seratus delapan puluh derajat: “kumpul tidak kumpul yang penting makan”. Ini, karena jiwa yang dilimilki adalah jiwa yang terkekang oleh hawa nafsu duniawi.

Akal sehat (nurani) tak punya ruang untuk maju. Nafsu menjadi terdepan. Karena termakan oleh tuntutan, layaknya artis yang harus selalu ceria di depan kamera. Walau nyata-nyata kehidupan di balik layarnya buruk, tapi cermin yang ditampilkan mengharuskannya perfeksionis. Ini penyakit. Penyakit mental kalangan muda yang tak berprinsip dan berpendirian.

Berbenah

Jika hidup kita ingin seimbang, kita harus bebenah. Membenahi diri. Menata mental dan membangun kepercayaan diri untuk tidak jadi bebek. Kalau pun harus mencontoh, contohlah sosok yang tidak hanya baik di kulitnya. Bagaimana caranya? Paling tidak bisa awali dari pergaulan sehari-hari. Seperti kata pepatah Arab yang artinya; jika engkau ingin mengetahui seseorang lihatnya dengan siapa dia berteman.

Selanjutnya kita wajib berbenah dan bertanya pada diri kita sendiri. Sudahkah kita punya idola ideal nan benar? Siapa idola hidup itu, idola yang bemoralkah? Kalau mengacu pada 100 tokoh yang paling berpengaruh di dunia, maka Nabi Muhammad SAW adalah tokoh utama yanng terdepan di antara 99 tokoh yang lain. Itu benar. Apa yang membuat beliau menjadi icon terdepan? Tak lain adalah sejalan dengan mandatnya sebagai Rasullullah SAW, yaitu untuk memperbaiki moral. Kalau di zaman sekarang kita dapat mencontoh perilaku Rasulullah Saw dari ulama-ulama salafussalih sebagai pewaris para nabi.

Moral adalah selimut hidup kita. Agar tidak kemasukan angin kenestapaan. Akhlak yang baik menjadi tonggak kehidupan. Sebagai manusia yang tak bisa hidup sendiri, maka butuh orang lain untuk saling membahu. Duduk sama rata, berdiri sama tinggi. Melihat realitas dewasa ini, kita butuh tokoh yang menginspirasi dan menjadi panutan. Sosok tersebut bisa jadi ada di sekitar kita.

Dalam menentukan tokoh yang baik itu dibutuhkan ketelitiian diri. Jangan sampai terjadi, menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh. Mari memilih tokoh panutan yang berasal dari manifestasi sifat-sifar kenabian. Pilah dan pilih menjadi alat timbang menapaki jalan hidup yang serba instan. Pilihlah panutan, idol, atau teman yang dapat menghantarkan kita menuju kehidupan lebih baik. Meminjam istilah santri; ikut Kiai jadi resi, ikut penjahat jadi bejat.

Maghfur MR, mahasiswa Pascasarjana Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Tags

Redaksi Jaazaidun.com

Tim Redaksi jaazaidun.com

Related Articles

Close