Opini

Madura dan Patron Kiayi

Oleh: Mohamad Fathollah

Kondisi politik di Madura menjelang pemilukada serentak 2018 dan 2019 akan nampak berbeda dari kondisi normal. Artinya elemen yang bersaing di pentas lima tahunan ini melibatkan elit-elit lokal di masing-masing wilayah. Sosok Kiai dan Blater masih memegang peran kunci.

Sebagian besar masyarakatnya masih menggaungkan sistem paternalistik. Sehingga tak salah jika pada setiap pemilu digelar peran Kiai atau Blater atau tokoh masyarakat setempat menjadi rujukan preferensi pemilih. Sosok Kiai masih menjadi sosok kuat dan menjadi elit lokal di tanah garam ini.

Bagaimana tidak, segela elemen kehidupan bermasyarakat tak lepas dari pangku tangan Kiai. Mulai dari urusan aqiqah hingga nikah. Dan dari urusan menangani orang sakit hingga urusan panggung politik. Dominasi ini sudah menjadi rahasa umum. Apalagi ketika Kiai juga mempunyai peranan di ranah pemerintahan alias jadi bupati. Praktis ranah “kekuasaannya” lebih luas.

Namun demikian, jika tidak terkontrol dengan baik kekuasaan Kiai yang menjadi bupati ini dapat menjadi semacam lintah yang “memakan darah saudaranya sendiri.” Parahnya ketika sudah menjadi penguasa yang “tak berbatas” ini sosok Kiai yang seperti ini tidak hanya berperan dalam penentuan kebijakan daerah dan proses pembangunannya, bahkan dominasi tersebut ditengarai hingga penempatan orang-orangnya dalam struktur politik dan jabatan pemerintahan dari level desa hingga hingga pusat.

Patronase

Penting kiranya diketengahkan dalam tulisan ini bahwa masyarakat Madura secara umum memiliki struktur sosial yang cukup berbeda dengan beberapa masyarakat di daerah manapun di Indonesia. Diakui ataupun tidak, struktur sosial masyarakat Madura hingga kini masih berpatron kepada sosok kiai. Kiai dalam pandangan struktur masyarakat Madura memiliki pengaruh luas dan dominan. Representasi Kiai Fuad di Bangkalan sebagai mantan Bupati dua periode dan ketua DPRD misalnya, sebagai patron telah menorehkan tinta emas perebutan kekuasaan hingga hampir tiga dekade mengalahkan semua rivalnya.

Karakter masyarakat Madura secara umum memiliki tipologi ketaatan yang tinggi kepada sosok kiai. Hal tersebut tidak dapat dipungkiri karena masyarakat Madura mayoritas adalah kaum sarungan atau pernah menjadi santri, baik di surau kecil atau di pesantren-pesantren. Posisi ketaatan kepada kiai atau guru bagi orang Madura menempati posisi kedua setelah orang tua. Realitas demikian perlahan menjadi patron.

Bagi masyarakat Madura kepatuhan kepada seseorang itu ada hierarkinya, tercermin dalam petuah bhuppa’, bhappu’, ghuru, rato . Petuah ini sangat terkenal di setiap lapisan masyarakat madura, setiap orang madura diajari untuk menghormati mereka. bhuppa’ (bapak), bhappu’ (Ibu) kedua orang tua menduduki hierarki pertama yang harus dihormati. Kemudian, ghuru (kiai, guru ngaji), disusul yang terakhir adalah rato (Pemerintah).

Kepatuhan hierarkis tersebut menjadi suatu yang niscaya untuk dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Hingga kemudian oleh beberapa kiai, pengaruhnya dimaterialkan dalam praktik politik. Tingginya pengaruh kiai menjadikan posisinya sangat penting. Tidak hanya sebagai pemangku institusi agama, pun juga sebagai individu yang ditokohkan dalam tataran budaya lokal. Realitas demikian dimanfaatkan oleh beberapa kiai terjun ke dunia politik. Tidak heran bilamana mayoritas pimpinan dan kepala daerah di empat kabupaten di Madura berasal dari kiai atau trah kiai. Selanjutnya para kiai berbeda kubu berkompetisi merebut kekuasaan tertinggi. Parahnya konflik antar kiai yang mengemuka berujung pada upaya pengarusutamaan kekuatan kelompoknya dan kroni-kroninya. Hal ini dapat diamati di Bangkalan.

Bercermin pada Kasus Fuad

Dalam persoalan politik, masyarakat Madura secara umum tidak akan jauh dari kepatuhan terhadap kiai. Sosok Kiai menjadi elemen paling dihormati dalam struktur masyarakat. Adanya cela yang dilakukan sebagai sosok kiai-politikus tidak dapat menggoyahkan ketaatan (takdim) masyarakat terhadap kiai. Kiai, mengacu pada pandangan Weber dalam Gidden (1986: 192-193), memiliki kharisma yang sudah melekat dalam diri seseorang.

Kiai, sebagaimana dalam teori Weberian, dalam struktur masyarakat Madura masih menempatkan dirinya sebagai sosok yang patut dipertimbangkan. Hal ini tidak lebih sebagai bagian dari benang merah relasi kultural masyarakat Indonesia yang masih lekat patron client-nya. Scott (1972) mengatakan masyarakat biasa yang tidak mempunyai kedudukan biasanya berpatron kepada seseorang atau kelompok masyarakat yang mempunyai kedudukan yang lebih tinggi.

Melihat realitas masyarakat Madura yang masih memiliki kepatuhan terhadap kiai, tidak menutup kemungkinan trah kiai dari kelompok yang lain dapat menduduki pucuk pimpinan pemerintahan di Madura. Pasca Fuad di Bangkalan misalnya, trah kiai masih tetap menjadi preferensi politik masyarakat. Namun demikian kasus Fuad dan Kiai yang tersandung kasus dengan KPK setidaknya mengikis kepercayaan masyarakat terhadap kiai-politikus.

Mohamad Fathollah jaazaidun  Mohamad Fathallah, alumnus UIN Sunan Kalijaga

Tags

Related Articles

Check Also

Close
Close