Opini

KARNI dalam Budaya Kita

Oleh: Ulifiyah

Tema perempuan acapkali menjadi kajian menarik yang tiada henti dibahas. Perdebatan antara laki-laki dan perempuan terjadi ketika gender dijadikan sebagai topik kajiannya. Forum tersebut biasanya nampak hangat dan sukar sekali menemukan benang merahnya. Diantara keduanya sama-sama mempertahankan argumen masing-masing, apalagi sampai pada peran perempuan di dalam ruang publik dan privat, baik perannya di dalam keluarga, bangsamaupun dalam konteks kebangsaan.

Di level bawah tema tentang pengarus utamaan gender melahirkan beberapa kontroversi dalam tatanan masyarakat. Pasalnya masyarakat, khususnya Madura, masih mendominasikan sitem patriarkhi. Tak hanya  itu, peran perempuan yang lebih banyak berada di kasur dan dapur secara tidak langsung mensubordinasi isu gender. Tema ini tidak hanya menarik dikaji dari sudut pandang budaya, tetapi juga agama. So, tak salah banyak kajian-kajian pengarusutamaan gender melampau sekat-sekat keperempuanan.

Dalam sudut pandang budaya misalnya, ketahui bersama bahwa budaya patriarki di dalam masyarakat sangat kental dan mendarah daging. Perempuan bagi sebagian orang khususnya di Madura, perempuan tetap harus di belakang laki-laki, tidak seperti lema pengarusutamaan gender yang menempatkan perempuan tidak sebagai kocah budih (teman di belakang laki-laki) tapi lebih tepatnya sebagai kancah ereng (teman yang berada di samping laki-laki). Tak ayal juga perspektif budaya tidak hanya menjadi alat pembenar, tapi juga agama sebagai alat dogma. Inilah kemudian yang secara tidak langsung dogma berjalan sebagai adat dalam kehidupan masyarakat. Parahnya, ketika normater sebut dilanggar, maka stigma miring dan steoritifikasi menjadi alat propaganda yang “menghukum” pelakunya.

Bagi perempuan yang aktif di luar rumah misalnya, tidak banyak di Madura. Bahkan bisa dikatakan sangat jarang perempuan terlibat dalam praktik-praktik politik. Karena perempuan masih dianggap orang kedua. Ketika budaya tersebut dilanggar, alamat gunjingan atau cemohoan menjadi buah bibir masyarakat. Perempuan di Madura, seperti biasanya perempuan desa kebanyak masih memegang kuat tradisi perempuan di dalam rumah. Jika perempuan keluar rumah tanpa seijin suami dan atau memiliki aktifitas tinggi di luar rumah omongan para tetangga dipastikan negatif. Tak ada perempuan keluar rumah seijin atau tanpa seiin suami di atas jam 21.00 WIB. Bahkan selepas magrib pun pantang perempuan Madura ke luar rumah terkecuali ada udzur syar’i semisal menjenguh keluar sakit dan semacamnyaNah, praktik-praktik seperti ini sudah lumah. Praktis tidak banyak ditemui para aktifis dan politisi di Madura berasal dari perempuan.

Praktik patriarkhi dalam ranah publik juga terjadi pada pemenuhan hak di dalam pendidikan. Misalnya, ketika dalam sebuah keluarga terdapat seorang anak laki-laki dan perempuan, maka yang akan diperjuangkan proses pendidikannya sampai selesai adalah anak laki-lakinya. Hal demikian terjadi karena adanya ikatan budaya yang sudah menjadi dogma. Hal ini berkembang di tengah-tengah masyarakat bahwa setinggi-tingginya pendidikan perempuan, maka ia akan tetap kembali ke dapur pula.

Jadi, dalam sudut pandang masyarakat perempuan hanya memiliki ruang dalam tiga hal yaitu dapur, sumur dan kasur saja. Melihat fenomena ini dapat kita tarik benang merahnya bahwa hanya sektor domestiklah yang menjadi garapan seorang perempuan. Sementara sektor publik bagi sebagian orang masih dianggap tabu.

Merenungkan Kartini

Ketika kita mencoba flash back pada sejarah, Kartini sudah melakukan perubahan untuk kaumnya. Ia memiliki ekspektasi perempuan maju bahwa kaum perempuan harus terdidik. Tak ayal di tengah-tengah mengurus rumah tangganya, ia juga berperan aktif mengurus umatnya, kaumnya kaum perempuan. Kartini berharap perempuan harus memperoleh pendidikan yang layak dan menjadi insan yang cerdas. Tapi dalam perspektif saya sikap Kartini yang demikian bukanlah mengajarkan kaum perempuan merdeka dan melawan kondratnya sebagai seorang ibu. Kecerdasan yang dimiliki bukanlah untuk bersaing dengan laki-laki, melainkan “bergandengan tangan”, bergerak senada-seirama untuk menciptakan peradaban maju.

Hal ini senada dengan sebuah maqola yang berbunyi “Perempuan adalah tiang Negara, apabila baik perempuannya, maka baik pulalah negara tersebut, dan ketika buruk perempuannya, maka hancurlah Negara tersebut.” Dengan mengacu pada teks ini maka amat mulia dan berat tugas dan tanggungjawab seorang perempuan sebagai tiang Negara. Mengapa demikian?karena di tangan perempuanlah tercetak generasi penerus bangsa. Sehingga wajib hukumnya perempuan itu menjadi insan yang cerdas layaknya harapan Kartini.

Kartini masa kini yang saya singkat sebagai Karni harus bergerak ke depan, menempa diri menciptakan peradaban cerdas. Kenapa harus cerdas dan pintar? Tak lain Karni-Karni di masa sekarang tak hanya mempunyai tanggung jawab menjaga keluarga, tapi juga memberikan pendidikan yang bagi anak-anaknya. Perempuan dalam konteks Islam adalah Madrasatul-Ula bagi anak-anaknya. Aanak yang cerdas lahir dari seorang ibu yang cerdas pula.

Jika ingin mentransformasikan ide-ide Kartini kita dapat meniru kiprahnya, salah satunya melalui bukunya yang terkenal “Habis Gelap Terbitlah Terang.” Lalu bagaimana dengan Karni? Apasaja karya yang telah dihasilkan?Apakah akan mencetak sebuah buku yang memiliki judul sama dengan Kartini atau malah sebaliknya?

Karni-Karni sejati memiliki tujuan hidup yang jelas. Ia harus menerobos sekat pendidikan. Memperjuangkan haknya untuk terdidik. Karni-Karni juga harus mempunyai target dan selalu pantang menyerah mengelola dan meningkatkan kreatifitasnya. Dengan begitu akan muncul Kartini-Kartini modern yang sejalan dengan peradaban zaman.

Karni tak boleh terjebak dalam definisi cantik nangaul secara fisik semata, tetapi juga pandai mendandani otak dan kepribadiannya. Jangan sampai kita para Karni-Karni muda selalu disibukkan dengan hal remeh temeh seperti memperbincangkan produk kosmetik, pakaian, dan lain sebagainya. Akan tetapi Karni muda harus bergerak memikirkan ide merumuskan keberpihakan perempuan di masa mendatang. Sehingga nilai substansi dalam hidupnya mulai menurun karena Karni akan cendrung mengoleksi barang-barang brand dan tidak sesuai dengan kebutuhan.

Semua itu dilakukan tak lain hanya ingin melahirkan kata cantik pada dirinya. Seyogianya Karni-Karni tak lagi lebih banyak membaca buku katalog daripada bahan bacaan atau buku-buku yang berisi tentang ilmu pengetahuan. Hari Kartini menjadi momentum untuk refleksi bersama seluruh kaum perempuan bahwa Kartini masa kini harus berpendidikan tinggi, cerdas, dan berperilaku santun. Karni-Karni harus memperjuangkan cita-cita Kartini dan sadar akan tanggungjawabnya sebagai tiang Negara. Selamat hari Kartini. Bangkitlah perempuan masa kini.

Ulifiyah, bergiat di Lakpesdam PCNU Sumenep

 

Tags

Redaksi Jaazaidun.com

Tim Redaksi jaazaidun.com

Related Articles

Check Also

Close
Close