Opini

Gender dan Kartini Masa Kini

Oleh: Ulfatun Hasanah

Kajian gender dalam Islam seperti tak ada habisnya. Beberapa isu tentang ketidakadilan gender selalu menjadi masalah yang terus dipersoalkan. Faktanya, salah satu stigma yang masih melekat di masyarakat adalah tiga komponen “kasur, sumur, dan dapur” yang seolah-olah menyebabkan perempuan tidak diberi ruang yang sama dalam panggung publik-politik.

Bahwa perempauan hanya bertugas sebagai pemuas nafsu laki-laki, berkutat dengan ruang domestik, seperti mencuci dan memasak. Stereotype tersebut jelas menyalahi misi dakwah Nabi yang rahmatan lil alamin. Sebab, pada masa awal Islam, perempuan memperoleh tempat yang baik setelah Nabi mengangkat martabatnya dari kebiadaban masa jahiliyah.

Para perempuan memperoleh porsi pendidikan dan ilmu pengetahuan yang sama, bahkan ada diantaranya yang menjadi ulama dan intelektual dengan keahlian yang beragam. Walaupun jumlahnya tidak sebanyak laki-laki, seperti yang Rood Roded sebutkan hanya berkisar delapan belas persen. Sebuah angka yang cukup luar biasa pada waktu itu karena baru keluar dari masa yang penuh kegelapan, masa jahiliyah.

Andai saat ini peran perempuan masih saja dipertentangkan, maka pantas jika zaman ini disebut dengan “jahiliyah modern”. Entah sejak kapan itu terjadi, yang jelas peminggiran kaum perempuan disebabkan oleh sistem patriarkhi yang sangat dominan. Salah satu contoh, Fatimah Mernissi, perempuan asal Maroko yang hidup di tengah-tengah budaya patriarkhi yang begitu kental. Sejak kecil ia sudah menderita karena ruang geraknya dibatasi. Hal itu berdampak pada pemikirannya yang sangat ekstrim tentang feminisme saat dewasa.

Muncul juga nama-nama tokoh perempuan yang menjadi korban patriarkhi lalu kemudian menyuarakan hak-hak gender di tengah-tengah panggung sejarah. Sebut saja Riffat Hassan, Aminah Wadud, Nadzirah Zainuddin, Asghar Ali Engineer, dan sebagainya.

Di Indonesia, sosok perempuan yang menjadi icon tokoh gender salah satunya adalah R.A Kartini. Bahkan bukan sekedar icon tetapi sebagai simbol perlawanan sepanjang masa. Dimana pemikirannya yang menyalahi adat pada zamannya waktu itu justru menjadi tonggak sejarah bangkitnya perjuangan perempuan dalam mengalahkan tirani dan penindasan terhadap kaum perempuan. Bagi Kartini yang hidup di tengah-tengah feodalisme dan patriarki, kesetaraan perlu ditegakkan dan dalam memperlakukan perempuan di panggung publik bukanlah suatu hal yang mustahil, melainkan sebuah keniscayaan. Perempuan tidak hanya beraktivitas di ruang domestik dengan pendidikan yang minim. Perempuan tidak lagi dipandang sebagai second class dalam panggung kehidupan, melainkan juga mempunyai andil yang sama dalam semua sektor, termasuk dalam dunia pendidikan dan perpolitikan dengan tetap tak menyalahi koridor Agama.

Hal semacam inilah yang diperjuangkan oleh Kartini yang tertuang dalam beberapa suratnya yang kemudian dibukukan oleh JH. Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama dan Kerajinan Hindia Belanda. Kemudian pada tahun 1911 dicetak menjadi buku dengan judul Door Duistemis tot Licht (dari kegelapan menuju caahaya) yang kemudian sampai pada kita dengan buku yang sangat fenomenal berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang diterjemahkan oleh Balai Pustaka.

“… dan kami yakin seyakin-yakinnya bahwa airmata kami, yang kini nampaknya mengalir sia-sia itu akan ikut menumbuhkan benih yang akan mekar menjadi bunga-bunga yang akan menyehatkan generasi-generasi mendatang.” (Surat R.A. Kartini kepada Ny. Abendanon 15 Juli 1902-DDTL, hlm. 214).

Melihat surat tersebut, jika diimplementasikan pada kenyataan hari ini menunjukkan bahwa harapan dan perjuangan Kartini tidaklah sia-sia. Kesetaraan yang diinginkannya menjadi sebuah kenyataan. Bahwa banyak hari ini, perempuan-perempuan yang mulai mendapatkan tempat, baik di bidang politik, ekonomi, budaya dan pendidikan. Tentunya dengan pemahaman yang positif terkait isu gender tanpa adanya bias berlebihan. Sebab, seperti perjuangan Kartini tentang kesetaraan gender tidaklah seperti apa yang dikhawatirkan oleh kaum lelaki yang dapat menyebabkan dirinya tersaingi, baik dalam ranah publik, terlebih dalam domistik.

Kesetaraan yang Bersinergi

Kesetaraan yang dimaksud hanya menekankan pada bagaimana perempuan tidak termarginalkan sedemikian rendahnya dengan sebutan makhluk kedua. Apalagi memposisikan perempuan hanya sebagai objek belaka.

Dalam satu  kesempatan perempuan juga pantas menjadi subyek untuk melakukan perubahan-perubahan, dengan legitimasi hukum yang memayunginya. Terlebih dalam beberapa ayat, hadits, dan ungkapan-ungkapan yang familiar didengar, seperti al-maratu imadu al-din, al-maratu hiya al-madrasatu al-ula, atau aljannatu tahta aqdami al-ummahat, dll.

Dengan demikian, sebagai catatan penutup dapat disimpulkan bahwa Kesetaraan Gender yang dimaksud adalah memposisikan perempuan dengan laki-laki dalam panggung publik dan politik secara setara, bekerja sama secara sinergi dan simultan. Keduanya mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam mendapatkan pendidikan, pelayanan publik, dsb. Sama sekali bukan untuk menyamakan secara kodrati antara laki-laki dan perempuan! Hal inilah yang kemudian dikenal dengan istilah equal but not same. Setara dalam mencapai hak dan kewajibannya tapi tetap tidak sama dalam kodratnya.

Ulfatun Hasanah, pengurus Lakpesdam PCNU Sumenep

Tags

Related Articles

Check Also

Close
Close