AlomampaKomunitas

Festivart Tanah Merah: Dari Seniman untuk Masyarakat

Jaazaidun.com—Sumenep – Seni adalah keindahan yang dibuat oleh tangan-tangan kreatifitas manusia. Seni adalah pemikiran dan perasaan yang diekspresikan ke dalam bentuk lukisan, musik, dan jenis lainnya. Seni adalah budaya, yang terus berjalan dan beriringan dengan kehidupan manusia.

Dalam suatu bangsa, seni kerap jadi icon atau identitas. Sehingga, kualitas dan keindahannya sangat penting untuk terus diperhatikan. Sepertinya, Indonesia mencoba untuk terus memperbaiki pola dan kualitas keseniannya. Pada tahun 2018 ini, Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan meluncurkan program “Seniman Mengajar”.

Artistik di festivart Tanah Merah

Menurut Nunung Deni Puspitasari seniman asal DI. Yogyakarta mengungkapkan, program ini merupakan upaya Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dalam menciptakan ruang-ruang dialog kolaborasi, dan partisipasi di tengah-tengah masyarakat. Sehingga antara seniman dan masyarakat bisa lebih luas berinteraksi, bertukar informasi, pengetahuan, berkarya, serta membangun jejaring bagi seniman.

Ada tiga belas lokasi yang telah dipilih menjadi tuan rumah program Seniman Mengajar ini, salah satunya adalah Sumenep, Madura. Sebanyak empat seniman dikirim Kemendikbud untuk berintraksi langsung dan menularkan kreativitas seninya.

Di antara seniman itu adalah Parmin Ras (Seniman Tari) dari Lumajang, Budi Sutrino (Seniman Seni Rupa) dari Magelang, Rizky Julian Pemana (Seniman Video) dari Yogyakarta dan Nunung Deni Puspitasari (Seniman Teater) dari Yogyakarta. Mereka akan menetap di dusun Balowar, Nyapar, Dasuk, Sumenep, Madura mulai dari 26 Juli 2018 s/d 27 Agustus 2018 di Singkong Art Space (rumah bapak Abdul Aziz).

Soca bening pangelon menyiapkan Artistik di festivart Tanah Merah

Rizky Julian Pemana (Seniman Video) dari Yogyakarta menyebutkan ada beberapa program yang dilaksanakan selama satu bulan. Diantaranya adalah : 1. Workshop Tari dan penggarapan pertunjukan tari dengan judul Aryawiraja “The Last Rato”. 2. Workshop Teater dan penggarapan pertunjukan teater dengan judul Rit(Us) Laut. 3. Workshop video dan penggarapan film dokumenter “Harmoni Tong-tong sumenep”. 4. Workshop Seni Rupa dan penggarapan artistic pertunjukan “bamboo art”.

Sebagai pemuncak kegiatan dari workshop dan penggarapan tersebut mereka mempersembahkan “Festivart Tanah Merah”. Diakui Rizky, Festivart Tanah Merah ini merupakan upaya Seniman Mengajar 2018 – Sumenep untuk menggali potensi daerah melalui pemetaan bentuk-bentuk kesenian dan ekspresi budaya yang mengakar dan berkembang di wilayah setempat. Dengan demkian, lanjutnya, mampu menciptakan makna, nilai, karakter, dan identitas yang terkait dengan potensi seni budaya setempat.

Lebih dari itu, juga untuk mendorong masyarakat melakukan proses dokumentasi bentuk kesenian daerah serta mendekatkan masyarakat dengan kegiatan kesenian. “Kegiatan ini diharapkan agar masyarakat peka terhadap potensi kesenian disekitarnya” ungkapnya.

Festivart ini juga diharapkan bisa berlanjut sebagai event tahunan di Sumenep. Beberapa kepanitiaan yang terbentuk, diharapkan tidak berhenti hanya pada program Seniman Mengajar 2018 ini saja. Melainkan, terus berlanjut ke depannya. Ini merupakan salah satu bentuk perwujudan dari ketertarikan masyarakat dalam memanfaatkan seni secara kultural, serta tumbuhnya event seni budaya di masyarakat setempat.

Dalam event Festivart Tanah Merah yang digelar pada 24 Agustus 2018, jam 19.00 WIB di dusun Balowar, Nyapar, Dasuk, Sumenep, ini ada beberapa komunitas yang terlibat dalam pertunjukan. Diantaranya adalah
Komunitas Dang-dang Gulo – Musik Tong-tong
Komunitas Kampoeng Jerami
Komunitas Taniyan Kesenian Blutoh
Komunitas Sanggar Lentera
Komunitas (Irene)
Komunitas Sanggar Alien
Komunitas Tari Muangsangkal. (Rd).

Tags

Redaksi Jaazaidun.com

Tim Redaksi jaazaidun.com

Related Articles

Check Also

Close
Close